Rabu, 01 Agustus 2012

TITIEK PUSPA






TITIEK PUSPA
Sang LEGENDA…Yang tak Lekang di Panas, tak Luput di Hujan…

“ Musik adalah Titiek Puspa…Titiek Puspa adalah musik, yang tak mungkin terpisahkan semenjak kecil hingga dewasa, hingga kini dan nanti”. Demikian kutipan ungkapan perasaan Anita Rachman si peraih Superior Award dalam Mermaid International Children’s Song Festival di Hirosima Tahun 1989.

Tidaklah berlebihan bila dibarisan “ Legenda” ini, kita jumpai peraih dua penghargaan bergengsi sebagai pendekar HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) dari dua lembaga besar : Departemen Kehakiman dan HAM (RI) dan WIPO (World Intelektual Propertyright Organization). Dia adalah ‘Titiek Puspa’, yang tetap bertahan dan bersinar sebagai hasil perjuangan atas komitmen dan keteguhan sikapnya berkarya dimasa lalunya pada “Musik Indonesia”. ‘ Tidak lekang di panas, tak luput di hujan……ia tetap segar menghijau, kemarin, hari ini dan di hari esok’.

Eyang dengan beberapa cucu dari 12 bersaudara ini, tumbuh dan besar di kota Semarang. Menumpang lahir di Kalimantan, demikian akunya suatu malam lewat telepon kepada penulis. Tepatnya lahir pada tanggal, 1 Nopember 1937. Titiek Puspa semasa balita, sering sakit-sakitan sehingga oleh kedua orang tuanya diberi nama bergonta-ganti nama asli dari mulai Sudarwati, Kadarwati dan Sunarti. Kemudian atas prakarsa Yayuk sahabat semasa SMP mengusulkan mengganti nama yang lebih ngepop ‘ Titi Puspo’ namun Titiek Puspa lebih sreg dengan pilihannya yaitu Titiek Puspa yang akhirnya nama ini dipakai pada saat melaju ke bintang radio dan melekat hingga sekarang. Titiek Puspa pun mempunyai nama pemberian dari sang Proklamator Bung Karno dan menjadi artis penyanyi kesayangan istana bersama sahabat-sahabatnya seperti Bing Slamet, Jack Lesmana, Nien Lesmana, Bubby Chan, Benny Mustafa. Karena seringnya menghibur para tamu istana, bahkan perna selama sepekan berlabuh dengan kapal Tampomas bersama rombongan tamu istana dalam rangka tour kenegaraan. Oleh Bung Karno diberi nama group Lensoe’s. Demikian Titiek Puspa dengan mata berkaca-kaca, mengenang masa-masa indah bersama sang Proklamator dan para sahabat-sahabatnya yang telah lebih dulu menghadap sang halik, Seperti yang diceritakannya kembali kepada penulis.

Setelah meraih juara sebagai Bintang Radio pada tahun 1954. Titiek Puspa memulai debut bernyanyinya pada tahun yang sama dengan lagu Dian Nan Tak Kundjung Padam di produksi PH Lokananta, di susul pada tahun 1956 dengan lagu Djakarta di Waktu Malam diedarkan PH IRAMA. Pada tahun 1963, sebuah lagu ciptaan-nya yang berbau heroik tentang kepahlawan dihasilkan yaitu Pantang Mundur. Kemudian disusul berturut-turut dengan lagu Tinggalkan & Si Hitam pada tahun 1964. Baru pada lagu Si Hitam langsung merebut hati pendengar, baik melalui siaran-siaran Radio, Televisi ataupun Garamophone dirumah-rumah penggemarnya. Lagu ini, berkisah tentang simbol dari manusia jujur dan baik hati, walau sebetulnya Si Hitam sebutan bagi orang-orang yang tidak cantik atau gagah dan menjadi olok-olok orang sekitarnya. Tapi bagi dia, selama orang-orang di sekelilingnya senang… kenapa tidak!!.

Titiek Puspa yang dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu, bintang iklan dan juga sebagai artis film senior. Tak kurang dari 17 judul film yang diperaninya. Yang sangat berkesan darinya, adalah film “Di Balik Tjahaja Gemerlapan”. Dibintanginya bersama Almarhum Rachmat Kartolo pada tahun 1965 dan film “Inem Pelayan Sexy” bersama Doris Callabout & Almarhum Jalal, pada tahun 1976. Dia juga piawai menulis skenario film. Dapat ditemui pada film Bawang Merah & Bawang Putih dan film Gadis yang dibintangi Dewi Yull dan Ray Sahetapy. Aktif di bidang organisasi Papiko (Persatuan Artis Penyanyi Ibu Kota) sebagai ketua, menjadi anggota Dewan Siaran Nasional, Anggota aktif BP 7 dan menjadi juri pada even-even perlombaan Festival maupun ajang pencari bakat distasion TV. Bukan itu saja, diapun sukses sebagai pengusaha ‘Puspa’ Catering dibilangan Perdatam - Pancoran.

Titiek Puspa yang mengagumi penyanyi jazz Ella Fitzgerald. Adalah salah satu gambaran penyanyi yang sangat memanjakan penggemarnya dari segi penampilan maupun berkarya sehingga beliau sangat menjaga mengkonsumsi makanan yang berkolesterol tinggi dan selalu berpikiran positif terhadap seseorang, sehingga diusianya yang sudah kepala tujuh dia tetap awet muda dan masih eksis dalam blantika musik pop Indonesia. Seperti yang penulis saksikan, sebagaimana sang Legenda ini memperlakukan penggemarnya layaknya handai taulan yang lama tak jumpa pada seorang ibu yang bernama Hj. Djumriah. Ibu tersebut sangat ingin bertemu atau berkomunikasi lewat telepon, disempatkanlah bertelepon ria dengan penggemarnya yang jauh diseberang lautan di kota Palu - Sulawesi Tengah. Seyogyanyalah para penyanyi pemula seharusnya mencontoh sebagaimana

pendahulunya memperlakukan penggemar dengan semestinya, karena tanpa penggemar seorang artis bukanlah siapa-siapa!!!.

Tidak semua perjalanan karier seorang Titiek Puspa berjalan mulus, sandungan kerikil bahkan badai taufan pun pernah menerpa dan dilalui dengan ikhtiar, berdoa agar dilapangkan dan diberi kekuatan. Maka terciptalah lagu Berkawan pada tahun 1966. Lagu ini, mempunyai lirik yang berbobot, mudah dicerna dan membawa misi damai antar sesama manusia. Lagu Berkawan tercipta merupakan titik tolak dari kehidupan dan ketidak jujuran manusia terhadap sesama. Menurut sebagian orang pada masa itu lagu Berkawan adalah senjata pribadi bagi publik yang anti kepada Titiek Puspa. Semua ini karena kata-kata, bahwa artis adalah penghibur yang mendapat imbalan honorarium dengan melalui kontrak. Dunia hiburan atau show bisnis dianggap masyarakat tertentu sebagai golongon minor pada masa itu. Bahkan sebagian orang-orang yang tidak bertanggung jawab, menebar fitnah dan isyue secara tidak terhormat untuk mencelakai si penyanyi. “ artis penyanyi dapat menghibur karena dapat menyanyi. Kalau tidak!, lebih baik mengundurkan diri” demikian pembelaan Titiek Puspa disuatu kesempatan wawancara di kediamannya.

Dalam membuat lagu dia tidak pernah memikirkan apakah lagu yang dibuat Top atau Flop bahkan Hits!, yang dipikirkan hanya siapa yang akan menyanyi. Terutama pada lirik atau lagu-lagu dibuat pusing dalam membuatnya, karena perkara apalagi yang akan disampaikan dalam sesuatu lagu. “ Kadang-kadang saya suka iri kalau melihat orang memainkan instrumen apa saja, soalnya saya tidak bisa memainkan barang sebiji instrumenpun”. Akunya dengan polos. Walaupun tidak mendalami harmoni musik, Accord musik Titiek Puspa dapat menghasilkan karya-karya yang berbicara di Internasional dan meng-harumkan nama bangsa Indonesia berkompetisi. Seperti lagu Cinta yang populer dinyanyikan Bimbo, mewakili Indonesia dalam Festival Pop Song se Dunia di Budokan pada tahun 1974 di wakili penyanyi Broery Marantika. Demikian pula pada lagu Horas Kasih (Viva Love) berhasil membawa Euis Darliah memperoleh Bronze Price di The World Song Festival in America 1984 – Los Angeles.

Kalau diperhatikan dengan seksama, lagu-lagu ciptaannya menggambarkan dalam segala warna alam rasa dan fikirannya. Tetapi dibalik itu yang mungkin belum banyak diketahui umum ialah, daya kreasinya dalam mencipta. Dari suasana Riang Gembira, ke Irama Sentimentil cenderung Melankolis bahkan juga kesuasana serius penuh ke Patriot-an & ke Pahlawanan, sampai ke lagu berirama Dangdut ( Pop Melayu) pun dihasilkan.

1. RIANG GEMBIRA : Lagu Marilah Kemari, adalah sebagai lagu ‘Beat’ Pertama di Indonesia. Musik Beat Lahir setelah musik Rock’n Roll. Menurut si empunya, sengaja lagu ini diciptakan untuk bermain-main dan memancing reaksi berinteraktif antara penyanyi dengan penonton. Namun kembali si empunya lagu mengisahkan, bahwa terkadang sering mengalah dengan sesama teman-teman penyanyi untuk membawakan lagu Marilah Kemari di setiap kesempatan show. Selanjutnya disusul kemudian Koes Bersaudara menghentak dengan lagu Bis Sekolah, Telaga Sunyi pada tahun 1960-an. Tak ketinggalan Band wanita Dara Puspita pada lagu Surabaya-nya. Ataupun dapat disimak lagu Jatuh Cinta sangat pas dibawakan penyanyi Eddy Silitonga pada tahun 1976, maupun Beat Disco pada persembahan almarhum Delly Rollies bersama band New Rolliesnya pada lagu Dansa Yo Dansa diera tahun 1980-an.

2. IRAMA SENTIMENTIL, MELANKOLIS : Tahun 1964, lagu Mama dibuat sebagai rasa sayang dan hormat yang begitu rupa dari anak kepada ibu yang sangat dicintainya dipanggil menghadap kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan pada Tahun 1971, Titiek Puspa berkali-kali diminta menyanyikan lagu tersebut oleh penonton yang hampir kebanyakan berkebangsaan Amerika saat show di New York. Patut pula disimak pada lagu ciptaan Titiek Puspa di era tahun 70-an berjudul Selamat Tidur Sayang dinyanyikan kembali Iwan fals dengan penuh perasaan menyentuh relung hati dan syahdu menggerayangi kuping. Lagu ini dapat dijumpai pada album Iwan Fals In Love yang diedarkan Musica Studio sejak tahun 2006.

3. PATRIOT & PERJUANGAN : Dapat dijumpai pada lagu Pantang Mundur, Jumpa ABRI dan Namamu Selalu, semua ini tercipta karena sebagai rasa hormat dan terima kasih kepada perajurit-perajurit yang menyelamatkan Pancasila. Terlebih baginya “ Buat siapa saja yang berkarya, amalkan ilmu itu dan sumbangkan apa yang kita punya buat masyarakat di sekeliling kita yang membutuhkan”. Demikian saran Titiek Puspa tanpa sedikitpun merasa menggurui.

4. DANGDUT (POP MELAYU): Menurut pengamatan, Titiek Puspa adalah komposer lagu-lagu pop pertama menciptakan lagu pop dangdut berjudul Hidup Untuk Cinta pada tahun 1967. Lagu ini sangat memasyarakat diantara penyanyi pop Indonesia untuk berebut menyanyikannya di atas panggung, bahkan lagu inipun tidak hanya dikenal di Indonesia tapi terkenal sampai ke negeri Jiran - Malaysia.

Ratusan karya Titiek Puspa lainnya berhasil menduduki anak tangga lagu-lagu pop Indonesia di radio-radio yang tersebar di wilayah negeri ini, baik dinyanyikan sendiri oleh pengarangnya maupun dibawakan penyanyi lain. Bahkan mengorbitkan puluhan penyanyi dari era tahun 1960-an seperti, Lilies Suryani dengan lagu Gang Kelinci-nya yang me-Legenda, Dewi Puspa yang penyanyi dan dikenal sebagai bintang film, meroket dengan lagu Nikmatilah Sisa Hidup Ini, tak ketinggalan, melambungkan nama Marini bersama The Steps pada lagu Titik-titik Hujan, sampai ke-era tahun 1980-an menorehkan nama Euis Darliah dikancah percaturan musik indonesia bersama lagunya yang fenomenal Apanya Dong. Era lagu Anak-anakpun Titiek Puspa mengahasilkan karya-karya yang mudah dicernah dan dapat dipertanggung jawabkan terhadap fisikologis anak-anak. Seperti dijumpai pada lagu Papa Mama Sayang Bobby, Hujan Lagi yang mengorbitkan Bobby Sandhora Muchsin, sebagai penyanyi anak-anak pria membayangi Adi Bing Slamet. Pun Santi Sardi selain Artis cilik berbakat juga dikenal sebagai penyanyi pada lagu Menabung, Mama No.1 di Dunia.. Tak ketinggalan penyanyi cilik papan atas diera itu, Chicha Koeswoyo berhasil berkolaborasi dengan Titiek Puspa dan sang suami tercinta Almarhum Mus Mualim pada Operet Semut Hitam & Semut Merah.

Penulispun tak ada salahnya mengajak bernostalgia, mendengar wawancara secara terpisah komentar penyanyi si Jatuh Cinta Eddy Silitonga, Diah Pitaloka (istri Donny Fattah, Basiss Good Bles) dan Andy raphon yang terkenal dengan lagu Kau Tiada Duanya pada tahun 1986. Mereka menyimpan kenangan manis tentang sosok orang tua atau paling tepat sebagai ibu dari para artis dekade tahun 1960 sampai dengan 1980-an. ‘Beliau begitu dekat kepada semua lapisan masyarakat, tanpa memandang apakah dia sebagai artis, Karyawan, Tukang Kebun, Pembantu sekalipun tanpa membeda-bedakan derajatnya’ demikian komentar Diah Pitaloka. Satu yang tidak pernah terlupakan Eddy Silitonga tentang sosok Titiek Puspa, ‘tepatnya pada tahun 1969 dan 1970 dimasa perpeloncoan (Mapran) dan sepulangnya dari Manila. Dimana Ireng Maulana dan almarhum Mus Mualim semasih hidup menjadi saksi sebuah inspirasi dari Titiek Pusp, memberikan Julukan si Suara Malaikat kepada saya’. Lain lagi komentar Andy Raphon tentang sosok yang dikaguminya semasih kecil ‘Ibu saya pernah berpesan, apabila sesampai di Jakarta dan menjadi penyanyi tolong carikan Titiek Puspa dan sampaikan salam dari ibu nak!’ atau kenangan yang tidak dapat saya lupakan seumur hidup, pada saat menjadi juara Bintang Radio seJakarta tahun 1982 dan diberi bimbingan bekal tekhnik untuk tampil seIndonesia Festival Bintang Radio & Televisi (FBRT). ‘Tante mau kamu nyanyi sebagai Andy Raphon, tante mau kamu nyanyi bukan sebagai Ebiet G Ade’ . Karena pada saat itu saya menyanyi dengan gaya Ebiet pada lagu Titip Rindu Buat Ayah. Akhirnya ilmu yang saya peroleh darinya saya terapkan pada saat lomba dan berhasil menjadi juara Pertama pada festival tersebut.

Semua lagu-lagu ciptaannya yang dinyanyikan penyanyi lain maupun dinyanyikan oleh Titiek Puspa, adalah gambaran Titiek Puspa yang sebenarnya. Titiek Puspa sebagai seniwati, sebagai Ibu, Eyang dari cucu-cucunya yang menginjak remaja dan sebagai putri yang dilahirkan di Bumi Indonesia. “The Songs Speak For Themselves” (Lagu-lagunya dapat berbicara sendiri). Dapat dijumpai pada lagu, Kupu-kupu Malam, Bimbi, Bing, Adinda maupun Mencari Bimbi dan lain sebagainya. Yang lebih penting lagi ialah karena tak ada orang yang dapat membawakan nyanyian dengan jiwa dan ekspresi yang sebenarnya kecuali pengarangnya sendiri “TITIEK PUSPA”.

3 komentar:

  1. Lagu2 Titik Puspa sangat bagus dan saya sangat menyukai lagu2nya. Tuhan memberkahi beliau dengan jiwa seni yang tak ternilai harganya,sudah puluhan tahun lagu2 beliau masih digemari,taklekang dimakan waktu,all the best wishes to you and god bless you,ita 082169541878. seumurhidupku ingin sekali rasanya berduet dengan beliau dalam menyanyikan lagu cinta ini.semoga allah mendengar keinginankuini.amin,mamamaria1964@yahoo.com. Salam kangen dari penggemar berat dari Pekanbaru Riau-Ita Mariani

    BalasHapus
  2. Lagu2 Titik Puspa sangat bagus dan saya sangat menyukai lagu2nya. Tuhan memberkahi beliau dengan jiwa seni yang tak ternilai harganya,sudah puluhan tahun lagu2 beliau masih digemari,taklekang dimakan waktu,all the best wishes to you and god bless you,ita 082169541878. seumurhidupku ingin sekali rasanya berduet dengan beliau dalam menyanyikan lagu cinta ini.semoga allah mendengar keinginankuini.amin,mamamaria1964@yahoo.com. Salam kangen dari penggemar berat dari Pekanbaru Riau-Ita Mariani

    BalasHapus
  3. pak jose, trimakasih sudah memuat artikel ini.. saya sangat terbantu dengan adanya artikel ini pak.. terimakasih pak jose.. :)

    BalasHapus