Selasa, 18 April 2017

HARRY VAN HOVE

· HARRY VAN HOVE Penulis: Jose Choa Linge, Empat tahun sudah kepergiannya menghadap sang pencipta dialah Harry Van Hove atau kadang salah tulis nama menjadi Harry Van Houten, sahabatnya mengenal dia sebagai seorang aranjer, komposer , musisi dan penyanyi yang sudah malang melintang di ranah musik yang dia tekunin sejak kehadirannya di usia Dini. Asal muasal nama bau2 Belanda di namanya karena kepincut pada seorang Musisi dari negeri Kincir – Belanda bernama ‘Van Hove’, sehingga Harry menyematkan Van Hove di belakang namanya sebagai nama baru dengan harapan menjadi nama keberuntungan maka jadilah HARRY VAN HOVE. Kini Harry Van Hove telah pergi dengan tenang pada hari Senin, 28 Januari 2013 di RS Siloam- Karawaci dan baru ke esokan hari, Selasa 29 Januari 2013 jenazah di Makamkan di TPU Binong Permai -Tangerang. Almarhum meninggalkan ‘sembilan’ cucu dan ‘empat’ orang anak, bernama: ‘Antonius Mickle Chrisandre, Cosmas Geoff marco, @Eouronica Nathalia Stepanie & Greigg Marciano dan seorang Isteri ‘Jeanne’ yang dinikahinya pada 11 Mei 1970, bagi anak2nya almarhum Harry Van Hove adalah sebagai Hero baginya dan menjadi sahabat yang selalu menerima anaknya seburuk apapun keadaannya. Nama aseli sebenarnya adalah HARRY HARSONO, lahir di Solo 18 April 1946 dari orang tua bernama ‘Juli & Slameto’ dari keluarga campuran Jawa & Tiongkok dan mengisahkan kepada anaknya ‘Greigg Marciano’ kalau sekiranya bakat yang ada pada papanya ‘Harry Van Hove’ adalah warisan estafet dari opanya yang seorang Musisi Keroncong di RRI-Solo, kepada ke empat anak2nya sama menyukai musik dan saudara papah ada yang menjadi pelayanan musik di gereja ungkapnya ke penulis. Selepas menamatkan SMA di Solo, Penumping - Laweyan, Harry melangkahkan kaki mengejar matahari yang datang dari ufuk timur bahwa kota Jakarta adalah pilihannya untuk menamatkan cita2nya. Pertemuannya dengan musisi A Riyanto yang membawanya bergabung di perusahaan besar Remaco Record di Glodok adalah bunga2 impiannya yang pernah menghalau fikirannya semasa tinggal di kota Solo dan sudah mencanangkan, bila untuk sebuah cita2 harus rela merantau meninggalkan semua terkasih dan tanggalkan tapak2 kelahiran demi sebuah nama Ibu Kota yang menanti raih impian. Kesempatan itu tidak begitu lama, sebuah album LP diluncurkan ‘Tersenyum Kembali/Cipt. Is Haryanto’ dan kesempatan ke dua kembali hadir lewat persembahannya menggamit karya2nya untuk albumnya ‘Sekeping Hati Rindu Menanti, Sonet Buat Seorang Sahabat, Kenangan di Bawah Payung, Doa Seorang Ayah, Kemarau Telah Berlalu, dll dari label Yukawi pada tahun 1977. Harry yang menguasai berbagai jenis alat musik, seperti: harmonika, gitar dan not balok tak pernah tinggal diam, bakat menulisnya di untai menjadi sebuah nada hasilkan karya meneruskan langkahnya untuk tetap menguasai kota Jakarta yang sebagian orang bilang sangat kejam melebihi kekejaman seorang ibu Tiri. Keunikannya dari hasil ciptaannya dibuat di malam hari, dan bila sudah masuk studio dirumahnya di Perum Griya Karawaci Blok A.4, Suka Bakti Curug –Karawaci, maka tak satupun dari kelurga ini berani mengusiknya. Mereka tahu bahwa perpanjangan kehidupan sehari2nya berada lewat lagu2 yang dihasilkan Harry Van Hove dan lagu ciptaannya bisa di temui di sejumlah Album Penyanyi Pop Anak2 recording Yukawi, Sky, Remaco, Irama Tara dari penyanyi, sbb: Dina Mariana, Adi Bing Slamet, Iyut Bing Slamet, Ira Maya Sopha, Sandra Dewi, Puput Novel, Fitria Elvy sukaesih, Diana Papilaya, Bobby Sandhora Muchsin, Julius Sitanggang, dll. Begitu pula di album pop indonesia penyanyi dewasa tak ketinggalan namanya terukir lewat gubahannya pada penyanyi, seperti: Marini, Zwesty Wirabuana, Victor Hutabarat, Maya Angela, Okie Joe, Mungky S Pusponegoro, Mona Sitompul, Mamiek Slamet, Jane Susan, Johan Untung, Jamal Mirdad, Hetty Koes Endang, Daniel Sahuleka, Deasy Arisandi, Helly Gaos, Endang S Taurina, Nur’afni Octavia, Herlin Widhaswara, Maya Rumantir, Oscar Harris, Sandra Remer, Uci Bing Slamet, dll. Menurut pengakuan dari Greigg, jumlah lagu papa lebih dari 100 judul lagu dan yang teringat ada berapa lagu ciptaan papa hits disaat itu, seperti: ‘Pilih Aku atau Dia dan jawaban Pilih aku atau Dia ‘Aku Pilih Dirimu’ dibawakan secara solo oleh; Maya Angela II maupun duet bersama papah dan album OST dari film ‘Kamus Cinta sang Primadona’ berjudul ‘Jimmy dan Intan’ dibawakan bersama dengan Uci Bing Slamet. ‘Greigg’ kembali menambahkan, perasaannya miris dan sedih... saat saksikan ajang Lomba mencari bakat yang diadakan salah satu televisi swasta, dimana salah satu peserta dari Malaysia menyanyikan lagu ‘Panti Asuhan’ saat salah satu dewan juri menanyakan siapa pencipta dari lagu ini, spontan peserta dari negara Malaysia menjawab adalah ‘bunda... (menyebutkan nama salah satu penyanyi Diva Indonesia). Saya sangat sedih ....seharusnya sang Diva tersebut membetulkan bahwa pencipta lagu ini adalah papah dan lagu ini pernah di populerkan oleh jamal Mirdad yang kemudian sang Diva tersebut kembali merekamnya bukan sebagai penciptanya dan mungkin saja album ini merambah sampai ke negeri jiran sehingga kontestan ini mengenal dengan baik lagu ini saja. Harry Van Hove juga pernah mengecap indahnya berAkting dengan bintang2 film dan tidak merasa kikuk, baginya bintang film atau penyanyi adalah sama2 masih berkutat di situ2 juga. Bintang film terjun sebagai penyanyi atau sebaliknya penyanyi mencoba keberuntungan sebagai pemain film dan tak menjadi soal katanya saat ngobrol2 di telepon beberapa tahun lalu semasa hidup, almarhum diminta langsung oleh Anton Indracaya sebagai produser dr film Luka Diatas Luka /Sutrd. Buce Malauw -1987 dan terakhir lewat film Kamus Cinta sang Primadona/Sutrd.Abdi Wiyono- 1988. Sebagai seorang anak yang terlahir dari Harry Van Hove, pastinya sangat bangga karena kami diberi cakrawala Musik secara luas dan papah adalah teman diskusi bagi kami dan tak mungkin kami melupa saat2 indah kami bersamanya.... kenangan ketika saya duduk dibangku SMP, papah ajak saya masuk kesebuah toko kaset di bilangan Blok M.. Papah bertanya ‘kamu mau kaset apa Greigg... langsung saja saya samber ‘dua’ buah kaset kesukaanku ‘The Beatles & Andy Williams’ dan papah tidak memprotes perbedaan selera musik kami... atau saat saya berlatih chord gitar sebuah lagu, saya kesulitan dibagian tertentu...Kemudian papah memnghampiri dan ajarkan chord yang benar, teringat lagu itu adalah Hawaiian Wedding song .....lanjut Greigg mengingat2 almarhum Papahnya. Jangan dikira Harry Van Hove belum pernah alami dirundung duka, masa sulit seperti apa...... karena sejujurnya musisi di negerinya ini masih kurang dihargai secara financial padahalnya karya seni itu abadi sepanjang zaman tak tergerus waktu. Keluarga kami alami pasang surut kehidupan musisi, ketika lagu pop sedang lesu2nya ....papah mencoba keberuntungan di jalur DangDut berjudul ‘Gadis Manis di Pintu Tol’ yang dibawakan oleh papah Harry Van Hove kurang berhasil dipasaran dan diakhir2 hayat papah pernah mencipta lagu hanya dibayar beberapa ratus ribu saja, padahal lagu tersebut menjadi juara ‘satu’ dalam ajang kompetisi lagu Rohani Anak2 di Bali dan keterlaluannya mereka merekam dalam bentuk CD menjadi album kompilasi dan lagu papah sebagai lagu andalan. Saya sebagai anak dari papah Harry Van Hove, sampai hari ini bangga bila berjumpa rekan2 papah sesama musisi dan setiap saya memperkenalkan diri bahwa saya Greig Marciano salah satu putranya papah Harry Van Hove, maka teman2 papa langsung bilang ke saya ‘Papahmu adalah seorang yang baik dan dia seorang musisi senior yang apa adanya tidak mumpungi’. Tak terasa, ‘empat’ tahun kepergian papah seperti baru kemarin saja... semua masih berjalan apa adanya saat kami masih utuh, ada Papah ... ada mamah.... Tapi ketika merunut kembali saat melongok ruang dimana papah selalu habiskan waktunya seorang diri berkutat dengan inspirasinya lagu2 dan Musik, barulah berasa bahwa papah benar2 sudah pergi ke sorga.... Papaaaaah, kami anak2mu, mamah dan cucu2mu selalu berdoa untukmu, kami percaya papah sudah bahagia disana bersama Tuhan dan kami selalu merindukan papah dan menginginkan kehadiran papah sekejap menemui kami walau hanya dalam mimpi agar kami tertidur pulas dan terbangun esok hari untuk songsong kehidupan hari2 kami papaaah... Love u paaaah!!! Jakarta, 28 Januari 2017

PRIJOLIN Enterprise

PriJoLin ENTERPRISE.. Penulis: Jose Choa Linge, PriJoLin, adalah Tiga nama dari Pri- Prilly Priscilla, sementara Jo- Jose Choa Linge II & Lin- Linda Dewiyanti telah hadir semarakkan Event Organizer yang mulai marak di Negeri ini. Mereka mempunyai kekuatan 'Nyali' yang tidak bisa diremehkan dan bersatu dengan Visi dan Misi untuk mengangkat kembali para Penyanyi Senior berTahta di kancah musik Indonesia untuk di hargai kehadirannya. Mereka adalah Tiga pribadi yang masing2 sangat bertolak belakang ini, saling menutupi kekurangannya dengan kelebihan masing-masing tanpa bersinggungan satu sama lain tentunya sudah menjadi bagian dari apa yang dinamakan seHati dan seNyawa. Semoga kehadiran 'PriJoLin Enterprise', akan selalu memberi suguhan persembahan dan kejutan2 dari mereka yang tentunya untuk membawa Visi dan Misi kepada sang Legenda Musik Tanah Air. Bila ditanyak mengapa?... PriJoLin.... sangat2 sedih melihat para Promotor Indonesia hanya berKiblat mengundang para Musisi2 Luar dari pada menengok kanan kirinya masih banyak Artis Musisi dan Penyanyi Negerinya yang Potensial layak dapatkan hal yang sama. So kenapa kita tidak bersikap adil pada mereka?. Gebrakan pertamanya, Sudah menyuguhkan Konsert Tunggal dari penyanyi yang kehidupan sehari2nya sangat sederhana dan Religius ini 'DIAN PIESESHA' bertajuk 'KERINDUAN' yang pernah digelar di Jakarta pada Tgl.15 Maret 2013 dan melibatkan Bintang Tamu; Wahyu OS, Eddy Silitonga, The2IN, dll bertempat 'Kartika Chandra Hotel-Ballroom Kirana, Jalan.Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Kemudian PriJoLin diGandeng KLMI (Komunitas Legendaris Musik Indonesia) pimpinan 'Chai Men Kho' menggelar Konser Amal dengan Thema 'Legend to Legend' dalam 'Malam Sejuta Kasih', keIstimewaan dari konser ini adalah melibatkan Artis Legendaris Bob Tutupoly, Ernie Djohan, Titiek Sandhora, Mus Mulyadi, Muchsin Alatas, Dian Piesesha, Arie Koesmiran, Betharia Sonata, Obbie Messakh, Maya Angela, Johan Untung, dan KOES PLUS. PriJoLin Enterprise masih eksis walau aktifitasnya sering terlihat hanya berDua atau perOrangan baik Prilly Priscilla maupun Jose Choa Linge masih selalu mengusung Event Organisasi yang dibentuknya bila berkolaborasi tetap membawa bendera PriJoLin, dan tercatat berapa kali menggarap event yang bekerja sama dengan beberapa instansi terkait menggelar Fun Bike, Bazaar Umum maupun Bazaar Artis yang selalu dinanti para pencintanya dan menjadi daya tarik tersendiri dalam menggaet pengunjung. Sejogyanya PriJoLin tak mungkin diragukan karena nama-nama besar didalamnya, seperti diketahui Prilly Priscilla adalah salah satu pagar ayu dari JK Records, Foto Model dan Produser begitupula nama Jose Choa Linge adalah bukan orang baru didunia seni karena sejak tahun 1980'an sempat tercatat sebagai pemain Sinetron, Teater, Model, Peragawan, Penulis, Pemerhati Musik/Film dan Pembawa Acara. Kehebatan Dua nama dari Tiga personilnya menjadi jaminan sukses sebuah acara kerena kekuatan, Starategi, Briliant dan penggemar yang mereka miliki, hal terpuji dari PriJoLin adalah mereka selalu memprioritaskan mengangkat kembali martabat Penyanyi Indonesia yang media sudah lupakan dan memberikan tempat layak yang semestinya mereka terima untuk pengabdiannya dilibatkan dalam kegiatan positif. Semoga PriJoLin akan menjadi sebuah perjalanan panjang untuk diceriterakan perjalanannya meraih sukses keDepannya dengan tetap mengutamakan visi dan Misinya menggelar Pertunjukan, mengApresiasi para Seniman Musik Senior Indonesia dan tidak menutup kemungkinan akan merambah keseluruh Wilayah Nusantara bahkan tidak segan2 untuk 'Go International' bila Tuhan Berkenaan, Insya Allah Do'a & dukungan para sahabat2 kami nantikan,Amin.

ERVINNA







ERVINNA
,  Penyanyi dari kota Buaya reputasi Internasional.
Penulis: Jose Choa Linge,


ERVIN adalah nama kecilnya,  setelah  terjun di dunia nyanyi  oleh alm.Kol. Indiarto ditambahkan  dua huruf NA dbelakang nama ErvinNA jadilah nama cantik ERVINNA si Penyuka olah raga Sport,
Lari Pagi, Yoga, Renang dan Gym ini.  Penyanyi cantik dan berwajah  oval ini lahir di kota Surabaya 4 Mei 1956 adalah sebagai anak bungsu dari ‘tujuh’ bersaudara, sejak berumur ‘lima’ tahun  sudah  menyenangi menyanyi dan baru berusia ‘dua belas’ sudah berani tampil di sekolah.  Penyanyi  yang  awalnya dikira penyanyi dari Philipina ini tidak tanggung-tanggung  berlatih secara fisik dengan sport secara rutin dan latihan vocal secara intensif hanya kepada  kakaknya  bernama Paulus Purnomo di rumah.

Kehadirannya di kota Surabaya saat itu masih belum dianggap dan beberapa kali mengikuti Festival Pop Singer tak pernah mendapat tempat terhormat di catatan dewan juri, hal itu membuat Ervinna selalu belajar dan terus belajar dalam  menggapai ketingalan2nya. Sehingga pada akhirnya Ervinna mendapat kesempatan rekaman di Singapore dan melakukan serangkaian show  baik di Singapore, Bangkok dan  Malaysia.  Suaranya direkam oleh Studio White Cloud Record & Co lewat lagu-lagu Barat kuno yang pernah populer di  Dunia, perusahaan recording ini hanya mencentak terbatas dan kesannya asal jadi lantaran group pengiring ‘Charlie & His Boys saat itu retak dan bongkar pasang pemain sehingga rekaman ini kurang maksimal penggarapannya.

Ervinna kembali keTanah Air pada tahun 1975 dan langsung mendapat tawaran merekam sekaligus beberapa album2  Populer, Melayu, Keroncong, adalah studio Golden Hand –Surabaya mempercayakannya merekam lagu2 Barat  di iringi oleh The Saz. Tidak tanggung2 album  LP-Long Play  lagu2 Old Hit & Top Hit di edarkan ke negara Jepang, Vietnam, Taipeh, Hongkong, Philipina,  Muang Thai, Malaysia & Eropa. Yang paling membekas diingatannya adalah saat keIkut sertaannya pada rombongan missi kesenian NTT  tampil diacara Ulang Tahun Kemerdekaan  Malaysia dan  di Timor-timor.  Ervinna mengisahkan pengalaman serangkaian tour shownya diberbagai negara, ada enak dan tidak enaknya... “enaknya adalah bila pertunjukan saya sukses gemilang dan jujur saja sebagai penyanyi Indonesia banggalah bisa menarik simpatik dari penonton, gak enaknya bila saya tiba2 terkena sakit tenggorokan karena pengaruh cuaca dan iklim...bila sudah demikian biasanya saya istirahat dan kedokter untuk mengembalikan suara saya yang semula serak  dan  juga kerinduan saya pada tanah air”.

THEODORA MONICA ERVIN  
adalah juga salah satu penyanyi serba bisa, penyanyi ini sdh muncul
dimasa tahun 70’an dan merekam suaranya di perusahaan Indonesia, Golden Hand,  Indra Record - Surabaya sebagai penyanyi  Populer, Djawa, Melayu maupun Kroncong  baik sebagai Solois maupun berduet bersama Mus Mulyadi.  Sejumlah albumnya direkam juga oleh perusahaan Padang Surya Mas, Remaco, Irama Tara, dll dan kemudian Ervinna memiliki reputasi Internasional dan acapkali kita temui melanglang buana kebeberapa Negara Asia,Eropa,  Amerika Selatan (Suriname) dan merekam semua lagu2nya baik berbahasa Tagalok,Mandarin, Jerman, Inggris, Taki – Taki,  Jepang  dan lain sebagainya.  Ervinna menambahkan kisahnya bahwa saat diawal karirnya dia harus memutuskan kebimbangannya memilih satu dari dua pilihan, saat itu tahun 1973 Ervinna masih duduk di bangku kelas 3 SMP – Sekolah Menengah Pertama Santa Agnes –Surabaya, terpaksa ditinggalkannya dan memilih karier barnyanyi daripada pendidikan formalnya.

Bila kita amati dipagelaran shownya, Ervinna seakan menjadi magnit antara gaya yang dia padu dengan ritme musik menyentak sehingga menjadi sihir bagi penonton merasa tidak merugi saksikan penampilan livenya. Bukan itu saja, pengamat musik dan media selalu berkomentar positif tentangnya karena kepemilikan tunggal  soal penghayatan teknik bernyanyi yang baik dan penguasaan panggung dengan aksi tari balet, disco, jazz  dan pada akhirnya tinggalkan decak kagum para penonton aksi panggungnya.  Disaat  dikomfirmasi rahasia kesuksesannya adalah, sbb;  “mempersiapkan lagu yang akan dibawakan atau lagu request dari panitia, terpenting menghapal,  kemudian mencoba menghayati  makna yang tersirat dari lagu tersebut... baru setelah itu mencoba  memasuki kreographinya, sebaiknya diselaraskan dengan  akting, gaya yang sesuai  isi lagu tersebut” dan hasilnya sangat menakjubkan seperti yang kita lihat kehadirannya belum lama ini di acara ‘Halalbihalal & Charity Eddy Silitonga oleh STARINA. – Solidaritas Artis Indonesia, Senin,25 Juli 2016 –Safari Cafe, Jak Sel d‘Delapan Puluhan’, pada hari Minggu, 18 September 2016 -  Auditorium TVRI’.

Memasuki e
ra 80an
saat kepulangannya di tanah air disambut dengan suka cita oleh A Riyanto dan langsung dibuatkan sejumlah lagu Disco bersentuhan Reggae 'Beta Kawan Setia dan berturut2 hits 'Jangan Parkir Disitu, Lari Pagi, Hallo Apa kabar,Manja Semanis Madu,Udang Di Balik Batu', dll juga sejumlah pencipta lainnya Arie Wibowo 'Lagu Manis, Angin Sorga', Ithink 'Aku Sudah Dewasa', Dadang S Manaf 'Secangkir Kopi', Elfas Seciora/Ingrid Wijanarko 'Hatiku Bahagia', Chilung 'Jakarta Metropolitan'.  Pencapaian sukses yang sudah diperolehnya hasilkan penghargaan berupa:  Piringan Hitam (PH) Emas, yakni Golden Record dari Singapore maupun dari Indonesia, sebagai penyanyi favourite versi Puspem Hamkam, Piringan Hitam (PH) Silver dari Singapore Record Association, Award BASF dari Indonesia dan penerima Award The Ten Best Singer di Asia, dll.

Penyanyi yang  dijuluki “The Angel of Indonesia”  ini
masih berdomisili di kota Surabaya dan kabarnya aktif menjadi penginjil (kegiatan Gereja) dan kurangi kegiatan sekuler kecuali album Rohani, walau Ervinna bukan penyanyi festival namun dia memiliki reputasi International tanpa harus menjadi warga negara setempat.  Kelebihan yang dimiliknya adalah penguasan bahasa asing yang dia kuasai, sehingga tak menyulitkan untuk komunikasi jika dia berada  di negara orang dalam serangkaian lawatan shownya, Ervina selalu mengusahakan menyertakan lagu berbahasa negera yang dikunjunginya tersebut sebagai sapaan salam mesra kepada pencintanya.  Ervinna pernah berceritera tentang kekagumannya pada sosok penyanyi Legenda Taiwan ini  ‘Teresa Teng’ dan rasa kekagumannya itu dia lukiskan dalam sebuah persembahan  merekam kembali lagu2nya, yang akrab dikuping seperti ‘Ni Wen Wo Ai Ni You, Goodbye My Love, ’...  Ervinna kembali tambahkan bahwa  seorang pengusaha dan seniman musik  bernama‘James Chu’  yang kini tinggal  di Hongkong  berkeinginan wujudkan keinginannya bikin album khusus mengenang sang legenda Pop Teresa Teng dan menggandeng Ervinna,  album ini bertajuk ‘Sing Teresa Teng 60 thn Anniversary’ di tujukan  kepada para penggemar Ervinna sebagai kenangan spesial.... ujarnya di awal tahun 2014 lalu.

Kerinduannya merilis album rohani Mandarin adalah wujud syukur atas  berkat  dan kasih Tuhan dalam penyertaanNYA dikehidupan seni maupun keluarga  kecilnya bersama  suami ‘Robert Soesanto’  dan kedua anaknya.  Ervinna baru saja hadirkan album  rohani dalam bahasa Mandarin ‘His Love’, walaupun  album ini mengalami proses  penantian yang cukup lama soal perizinan  dari publisher Taiwan maupun Amerika dan ‘Puji Tuhan’  album yang dikerjakan oleh Maranatha Record sudah dapat ditemui di galeri  ‘Pondok Pujian’  di JaBoDeTabek.  Tahun 2015 , Ervinna kembali melempar album untuk kalangan sendiri yang bertajuk  ‘500 tahun Kelahiran Santa Teresa dari Yesus’ berisi lagu2 ‘Nada Te Turbe, Maria, Mirame,  Ave Maria (Ora Pro Nobis), Acogeme, Oh madre del Carmelo, Inviolata,  FlosCarmeli & Flor DelCaemelo, dll.  Diakuinya  bahwa keberadaan album ‘NADA TE TURBE’ – ‘Janganlah Gelisah, Allah Saja Cukup’  karena  dia melihat banyak orang tenggelam dalam kegelisahan dan kekuatiran, ‘saya sangat berkesan dengan kehidupan, perjuangan dan spritualitas dari Santa Teresa... saya dimampukan untuk menyanyikan album pujian ini”.  Aktifitas disela  kesibukan  Ervinna adalah  aktif dikegiatan rohani dan tercatat di kepengurusan  komunitas pertumbuhan iman perempuan bernama ‘Bunda Kudus’ di kota kelahirannya berdiri sejak tahun 1994 silam,  keberadannya dikomunitas ini  dipercaya sebagai ketua dan  eksis menggalang dana untuk pembangunan rumah ibadah (Gereja), bakti sosial di rumah2 Anak Yatim Piatu, Rumah Jompo maupun korban Bencana Alam tanpa melihat  Sukunya apa dan Agamanya apa.


Bila dihitung prestasinya,  sepertinya mampu menyandingkan namanya setingkat penyanyi Hetty Koes Endang sebagai sebutan Penyanyi Serba Bisa karena Ervinna telah menguasai dan lama hidup sebagai seniman secara International dan rata2 disetiap negara disinggahinya Ervinna merekam lagunya dengan berbahasa setempat, albumnya bila dihitung dari sejak menapak dan hingga saat ini bisa mencapai lebih kurang dari 200-250 keping  Compect Disc (CD), Laser Disc (LD)  baik dalam bentuk Pita Kaset maupun Piringan Hitam (PH),  Long Play (LP),  sejumlah lagu berbagai ragam dari album Pop Indonesia,  Mandarin, Jerman, Melayu, Reggae, Disco, Dangdut, Inggris, Batak, Natal,  Djawa, Kroncong, dll  dan nama Ervinna pernah tercatat di credit title film Indonesia sebagai pemeran utama lewat film ‘ Hujan Duit-tahun 1977 bersama Latif M, Doris Callabout’ dan sempat berseloroh ‘kapok main film...capeknya nggak ketulungan’.

 Diakhir tulisan ini, segala pujian penulis ada padanya dibanyak hal soal keramahan dan kemurahan senyumannya, diapun tak segan2 memberi kabar bila sedang ada pelayanan di Jakarta dan janjian disuatu tempat walau sekedar dinner atau ngobrol-ngobrol  sambil berbagi kisah ceritera.   Tentunya pertemuan kami bersama  Ervinna tak kami  sia2kan begitu saja dan selalu kami mengakhirinya dengan foto selfi berdua sebagai  layaknya sahabat yang merindu  seseorang  hadir  yang selalu menenangkan  dalam segala situasi keterpurukan ditinggal  mati sang   belahan jiwa  ‘Robert Soesanto’ belum lama ini,   dan sahabat mengingatkan saatnya untuk bangkit  walau seberat apapun itu separuh  Jiwa kita pergi...Sahabat,  ibarat sebatang lilin ...menerangi kegelapan.   SEKIAN.

disempurnakan pada, Sabtu, 15 April 2017
di Curug – Jakarta Timur.