Rabu, 17 September 2014

GUMARANG





GUMARANG
“Musik Indonesia dari Daerah Minangkabau”
Penulis: JOSE CHOA LINGE 


Alkisah, sekelompok pemuda Indonesia yang berasal dari Minangkabau bersatu mewujudkan impian musiknya membawa lagu – lagu minang modern dengan iringan musik yang bukan tradisional. Mereka, melakukan apa yang harus diinginkannya utuk memajukan unsur musik Indonesia dari daerah Minangkabau yang sudah ada sebelumnya dijaman penjajahan Hindia Belanda – Voor De Oorlog. Demi meneruskan perjuangan “Penghibur Hati” yang di pimpin SUTAN PERANG BUSTAMI dengan serangkaian albumnya yang sudah mengukir sejarah musik mulai dari lagu ‘Kapainyo sampai Dayung Palinggam’, kelompok pemuda inipun terinspirasi mengikuti perjalanannya. Akhirnya, kelompok anak – anak muda yang menguasai alat musik & vokal ini, terdiri dari ‘ Awaluddin, Yus Bahri, Syaiful Nawas, Hasmanan (Reno), Alidir, Anwar Anif, Sumwa, Azwar, Dhira Suhud, Joesfar Yusuf (Malano), Khaeruddin & Taufik’, sepakat memberikan nama perkumpulannya “GUMARANG”. Nama Gumarang sendiri diberikan oleh Awaluddin yang diambil dari cerita legenda Minangkabau yang berarti “Nama seekor kuda yang warna bulunya putih, berlari cepat dan sangat lincah”. Akhirnya, perkumpulan ini dikenal bukan dalam bentuk band, tetapi lengkapnya “ORKES GUMARANG”.
SEJARAH GUMARANG
Pertama kali terbentuk sekitar tahun 1954, dimana menjadi markas berkumpulnya sekitar ‘sepuluh’ pemuda Indonesia berasal dari ranah Minang disebuah rumah seorang pemuda bernama ‘Yus Bahri’ yang terletak di jalan Jambu, Menteng – Jakarta. Sunggu tidak terduga pertemuan anak – anak muda ini selalu mengemukakan ide – ide yang sungguh cemerlang dengan keinginan mereka mendirikan perkumpulan musik. Hanyalah sebuah mitos yang berani menuding mereka hanya sekelompok pemuda kampung tanpa bakat dan hanya mampu menjadi pedagang kelontong disekitar Pasar Senen (sekarang disebut K-5) dan bahkan menjadi supir oplet sekalipun dijaman itu. Usaha anak – anak muda inipun menghimpun kekuatan dengan masing – masing keahliannya diantaranya, Azwar, Alidir & Anwar Anif pada gitar sedangkan Azwar (merangkap bermain gitar), Hasmanan, Joesfat Yusuf & Kairuddin sebagai vokalis, selebihnya pada permainan Bass, Piano, Bongo & Gendang. Pada akhirnya, mereka berhasih memunculkan pertunjukan yang memukau dengan permainan ‘Gendang, Bongo, Marakas, Gitar & Bass” dengan mempertahankan kelestarian “Rentak Joget & Rentak Gamat’ sebagai pembuktiannya. Hal  yang paling mencolok di kelompok ini dengan kehadiran Zainal Ardi (mantan suami kedua Titiek Puspa), keduanya bergabung memperkuat team musik Gumarang. Kelompok yang dipimpin Anwar Anif inipun mengikuti perkembangan zaman dengan menyerap gaya “Xavier Cugat”, sebuah kelompok band yang sedang digandrungi dimasa itu dan menjadi kekuatan musik dari Gumarang itu sendiri.

GUMARANG TAMPIL DI RRI
Terobosan baru mulai dilakukan Gumarang adalah pertama kali muncul di RRI tahun 1955 berkat usaha dari Zainal Ardi yang bekerja sebagai penyiar di RRI – Jakarta (pindahan RRI Palembang), dia melakukan pendekatan dengan para pejabat – pejabat seksi musik RRI yang akan menguji musik Gumarang. Mereka melakukan langkah yang paling mudah untuk menghadapi tes musik itu dengan eksplorasi musik pada lagu “Dayung Palinggam & Tari Payung”, Anwar Anif dan kawan – kawan tanperlu terbebani dengan pengalaman musik mereka yang baru ukuran “sejengkal” & masih “hijau”. Sebaliknya mereka menunjukkan suatu pengembangan bermusiknya di hadapan para juri seperti, “Gordon Tobing, Ismail Marzuki, Iskandar & Sudarnoto” sehingga mereka berpeluang besar untuk lolos seleksi. Pada hari selanjutnya, orkes Gumarang Muncul perdana di acara siaran musik hidup (live) malam hari dengan persembahannya beberapa lagu Minang modern versi lama dan baru “Si Upiak, Sempaya, Nasib Sawah Lunto & Kaparak Tingga” sebuah persembahan yang lancar dan mulus. Setelah sukses siaran perdana Gumarang, bermunculanlah kritik pedas maupun berupa pujian dari penggemar radio maupun ‘urang – urang awak’ sendiri. Seperti kutipan sdr. A. Sukardi dari media “Mimbar Taruna”, ‘Mengapakah putra – putri Minang masih menciptakan lagu – lagu yang memakai bahasa daerah, sedangkan di pulau Jawa sana komponis Gesang dan konco –konco menciptakan lagu – lagu yang kata – katanya terdiri dari bahasa Indonesia???’. Bagi kelompok ini, hal tersebut adalah sebuah renungan dan menganggap kritik tersebut adalah awal langkah menuju sukses, ‘Kurang pantas kritik itu didengan kuping kiri lalu menembus kuping kanan, dengan kata lain lebih baik tidak perlu didengar sama sekali’ ungkap Syaiful Nawas. Apa yang dilakukan kelompok ini, telah membuktikan bahwa persembahannya mampu menghipnotis yang bukan di monopoli ‘urang – urang awak’ saja tetapi ada yang berasal dari luar Minangkabau. Perlu dicatat, kelompok ini secara tetap mengisi acara musik hidup (live) “PANGGUNG GEMBIRA” di studio V yang dipercayakan RRI pada Gumarang.
GUMARANG & ORKES STUDIO JAKARTA (OSJ)
Keberhasilan nama Gumarang, membuat seorang Syaiful Bahri pemimpin dari Orkes Studio Jakarta (OSJ) mengundang kelompok ini memperkuat pagelaran musiknya di gedung Kesenian Jakarta. Walau kolabirasi ini hanya team vocal Gumarang saja yang dilibatkan bergabung dengan Orkes Studio Jakarta (OSJ), namun keputusan ini tidak membuat yang lain berkecil hari malah sebaliknya berlapang dada dan saling mendukung. Dalam pagelaran ini tidak hanya menampilkan Gumarang saja, begitupun sebaliknya orkes besar ini mnggetahkan penyanyi intinya seperti Ping Astono, Bing Slamet, Sal Salius, Sam Saimun & Said Effendy adalah termasuk penyany top dijamannya. Biar tambah menarik, acara konser ini disajikan lagu – lagu hiburan, keroncong, melayu termasuk lagu – lagu Minang modern dan sebagai pemeriah diperagakan tari – tarian Indonesia serta tari –tarian daerah. Tak heran, kalau kemudian team vokal Gumarang mendapat sambutan yang meriah dengan persembahannya pada lagu “Dayung Palinggam, Limpapeh Rumah Nan Gadang & Tari Payung” yang diiringi penari – penari yang terpilih seperti , Rosilawaty, Yus Bahri dan beberapa penari lain. Begitupun dengan penampilan Gumarang bersepanggung dengan beberapa orkes top dimasa itu seperti ‘Dolok Martimbang & Eka Jaya Combo’, diperkuat trio pelawak ‘Bing Slamet, Cepot & Udel’ di gedung Olah Raga Senayan. Persembahan ketiga orkes ternama ini, memperlihatkan kepada masyarakat Indonesia bahwa betapa indahnya ragam budaya dan keseniannya dengan tembang – tembang dari berbagai sukunya tanpa harus memilih satu diantaranya melainkan berpihak untuk ketiganya. Sukses Gumarang bersepanggung dengan OSJ maupun Dolok Martimbang & Eka Jaya Combo adalah sebagai langkah pertama, yang dapat iikuti kerjasama yag lain dikemudian hari.

FORMASI BARU GUMARANG
Meskipun kepergian salah seorang anggota pelopor kelompok ini ‘Anwar Anif’ meninggalkan Gumarang secara mendadak, tidaklah membuat orkes Gumarang menjadi bernatakan ketiadaan pimpinan. Justru sebaliknya, di tangan sang gitaris ‘Alidir’ yang ditunjung memegang tongkat kepemimpinan adalah menjadi faktor penyelamat orkes ini. Apalagi dengan bergabungnya ‘Asbon’ seorang gitaris yang punya nama di Padang, dan juga masuknya seorang pianis handal ‘Yanuar Arifin’ membawa pengaruh sangat besar dalam perubahan warna Gumarang. Lihat saja pembaharuan yang dilakukan kepemimpinan Alidir ini, aransemen musiknya diperkuat dengan (gendang/drum) dan Hasnanan, Joesfar Yusuf, Khairuddin, Zainul & Djusna Tahir (vocal) yang kemudian penyanyi satu – satunya wanita inipun meninggalkan Gumarang. Mungkin menjadi hal yang lumrah di tubuh kelompok ini bahwa ada yang pergi dan ada pula yang datang memperkuat Gumarang. Namun demikian terlepas dari kekurangan dlam tubuh kelompok ini, Gumarang tetap tampil jauh lebih baik dari sebelumnya. Perlu diketahui yaitu, bahwa seorang Alidir sudah mampu membawa kelompok ini ke bilik rekaman musik Gumarang di perusahaan Piringan Hitam Lokananta (milik Deppen) memainkan lagu “Lipapeh Rumah Nan Gadang, Bujang Kirai, Baju Kuruang, Laruik Sanjo, Titian Nan Lapuak” tahun 1956. Dia juga menunjukkan hal lain dari kepemimpinannya yakni, aransemen Gumarang memang enak didengar memakai rentak gamat, joget, beguine, ruma, cha – cha, latin dan musik Gumarang tambah kuat karena pukulan gendang, bongo, maakas & bas Betotnya. Pada akhirnya, kepemimpinan Gumarang diserahkan ‘Asbon’ untuk melanjutkannya, dan bisa ditebak formasi pada vocal berubah ‘Anas Yusuf, Junu Amar, Asbon, Syaiful Nawas & kehadiran penyanyi dari orkes “Kenangan” yang tak lain adalah ‘Nurseha’ menggantikan posisi penyanyi wanita sebelumnya yang mengundurkan diri, antara lain ‘Djusna Tahir, Titis Idris & Eny’.
GUMARANG dengan “AYAM DEN LAPEH”
Di tahun 1958 adalah dimana kelompok ini menghasilkan album berikutnya di perusahaan Piringan Hitam IRAMA milik mantan Purnawirawan TNI-AU ‘Suyoso Karsono’. Yang pasti, Gumarang membuktikan rekaman kali ini lebih mampu mengguncang dunia musik Indonesia dengan serangkaian lagu – lagunya yang sudah menjadi idola masyarakat dikala itu. Kelompok ini menunjukkan kesungguhan dan hebatannya dalam bekerjasama dan kita juga tidak akan pernah mendengan mereka separuh hati dalam berlatih. Mereka selalu kompak dan bersungguh – sungguh, dan itu terwujud dalam persembahannya direkaman ini pada lagu – lagunya seperti ‘Ayam Den Lapeh, Laruik Sanjo, Titian Nan Lapuak, Baju Kuruang, Ya Mustafa, Oi Kampuang’. Namun hal terpenting dari kelompok koor Gumarang dan Nurseha, sepertinya mempunyai kekuatan energi dalam penjiwaan pada pantun – pantun liriknya “ONDE, ONDEEEEE.. LAH LARUK SANJOOOOOOOOO & AI,AI,AI..... AYAM DEN LAPEEEEEEEEEEHHHHHHH.....
Pengaruh kolompok ini ada dimana – mana, album Long Play Gumarang meledak dipasaran baik di Jakarta maupun di luar kota Jakarta. Gumarang juga dikenal dari berbagai etnis maupun suku, baik kalangan pribumi sampai non pribumi dan disenangi kaum tua maupun muda bahkan kalangan bawah sampai kalangan atas semua mencintai lagu – lagunya dan tepatlah bila kelompok ini lebih unggul dibanding yang lain. Tak disangkal, kehadiran biduanita ‘Nurseha” yang lahir di Bandung 4 Agustus 1937 asal Bukit Tinggi di kelompok ini, menjadi salah satu kekuatan Gumarang dalam mengusung musik dan budaya Indonesia dalam lagu – lagu Minang modern. Persembahannya pada lagu Ayam Den Lapeh (Cipt. A. Hamid) diderretkan side B, semaikn mempopulerkan orkes Gumarang dan membawa pengaruh yang dia sebarkan sangat besar. Liat saja, media elektronik (Radio RRI) dan media cetak berbentuk koran atau majalah (Pedoman Indonesia Raya, Suluh Indonesia, Pemuda & Varia Selecta) banyak menulis tentang Gumarang secara nasional.

GUMARANG Menembus Luar Jakarta
Sangat mydah untuk menyukai kelompok ini, terlebih para pemujanya dari kalangan bukan ‘urang awal’ yang jatuh cinta dengan serangkaian lagu –lagunya yang dikenal lewat media piringan hitan, RRI, koran & majalah. Nyatanya hal tersebut memang benar, popularitas nama Gumarang terus meningkat sehngga dilirik para panitia dari luar Jakarta, seperti : Medan, Bogor, Bandung, Tanjung Pinang (Riau), Aceh, Surabaya, Bali, & Palembang. Bagi pra penonton bukan ‘urang awak’ kini tak lagi mempermasalahkan apakah tetap menampilkan lagu Laruik Sanjo, Ayam Den Lapeh, Baju Kuruang, Sansaro Badan, Denai Sansai, justru kelompok ini dinilai sebagai musisi yang berfikiran maju, profesional, dan idealis. Tak hanya itu, Gumarang juga selalu diperkuat dengan team pelawak, penyanyi dan penari dari team unsur luar dikesempatan lawatannya, seperti ‘Bagio&Iskak (pelawak), Ivo Nilakrisna, Nina Karina & Mien Sondakh (penyanyi), Rosilawati, Syaugie Bustami, Nun Zaerina & Akhyar (penari)’. Dalam kunjungan shownya di kota Palembang, kelompok ini mencatat sejarah yang fenomenal adalah “Menggalang Dana unuk pembangunan Gedung Wanita di Palembang dan kelompok ini identik dengan acara Lelang Lagu – lagu Gumarang”. Tepatnya, Gumarang tak mengenal lapisan masyarakat,, suku & budaya, dia bisa masuk keseluruhan global industri musik Indonesia yang berbudaya nasional dan ‘cinta tanah air’ dalam kehidupan bermusiknya sehingga menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat Indonesia seutuhnya.

GUMARANG dalam Film
Sangat sulit membayang kan, sejauh mana Nurseha bersama orkes Gumarangnya mengguncag republik ini di masa itu. Yang jelas, keharuman nama Nurseha dan kesohoran lagu “Ayam Den Lapeh (1960)” membuat produser dari Stupa Film tertarik memfilmkan dengan pemain Juni Amir Mewakili orkes Gumarang sebagai pemeran utama didampingi bintang film kenamaan Bambang Irawan & Farida Arriany. Cerita di film ini mengangkat tema cinta sampai kehidupan masing – masing tokohnya yang makin complicated karena soal “sikucapang sikucapeh” artinya: ‘yang dikejarpun tak dapat, yang ditanganpun ikut lepas’. Di tahun yang sama, Usmar Ismail dengan PERFINI-nya berhasil memvisualkan kelayar lebar kembali ketenaran lagu “Laruik Sanjo (1960)”, tapi sangat disayangkan film ini tidak beredar. Kalau dirunut, sepertinya bos Perfini ‘Usmar Ismail’ sudah kepincut melibatkan anggota Gumarang di filmnya pertama kali sebagai Guest Star di Film “8 Penjuru Angin (1957)”, selanjutnya film Masa Topan dan Badai (1963) & dibalik Cahaya Gemerlap (1966). Penampilan Gumarang di film 8 Penjuru Angin hanya sebagai pelengkap dari bintang – bintangnya seperti , Bambang Irawan, Bambang Hermanto, Chitra Dewi, & Mieke Wijaya. Kerjasama Gumarang dengan insan film di beberapa judul film lainnya “Bertamasya (1959)”, menyertakan karya cipta Syaiful Nawas berjudul ‘Senyum Dik’. Begitupun dengan Asbon pimpinan Gumarang, memperoleh penghormatan mengemas beberapa judul film Indonesia sebagai penata musik seperti “Bertamasya, Ayam Den Lapeh, Laruik Sanji & Masa Topan dan Badai”. Namun, bagi kelompok ini adalah menjadikan pengalaman berharga dan sebuah kepedulian dalam memajukan film Indonesia.

SIMPATISAN GUMARANG
Yang jelas, posisi Gumarang mengemban tanggung jawab besar menjadi bintang di industri musik Indonesia. Gencarnya media cetak dan media radio yang menampilkan kelompok ini, menarik perhatian masyarakat umum sampai kepada Presiden Orla “Ir. Soekarno”, Wakil Presiden “Bung Hatta” dan Ibu Fatmawati Soekarno” tetapi juga Perdana Menteri Singapura “Lee Kuan Yew”. Hal itulah yang membuat kelompok ini sering selaku menginjakkan kaki di Istana di Jalan Merdeka Selatan, Gumarang diminta mengadakan pertunjukan musik untuk tamu negara atau dalam rangka memeriahkan pesta ulang tahun petinggi negara. Kelompok inipun pernah di undang mengadakan hiburan musik di rumah Ibu Fatmawati Soekarno di Jalan Sriwijaya dengan tamu undangan dari orang – orang besar di bidang perfilman Indonesia berakhir sukses dan foto bersama dengan ‘Ibu Fat’. Pamor kelompok inipun tercium Departemen Luar Negeri (Deplu), mereka diminta menampilkan musik Gumarang dihadapan tamu negara Perdana Menteri Singapura ‘Lee Kwan Yew’ lagi –lagi meraih sukses gemilang. Tapi, sepertinya nama Gumarang tak habis – habisnya jadi bahan perbincangan dari berbagai profesi dimasyarakat. Lihatlah, kelompok ini diminta untuk mengadakan pertunjukan di gedung PRESS CLUBB – Jakarta menyajikan musik dan lagu untuk Dansa – dansi para pecandu melantai dari keturunan Tionghoa dan orang – orang asing dari Kedubes. Mungkin hal yang paling berkesan bagi kelompok ini adalah bermain diatas kapal “Tampomas” mengiringi Bung Karno berdansa dan berjoget diruangan khusus didalam kapal, dengan persembahannya pada lagu – lagu Indonesia dan lagu daerah modern lainnya sperti ‘Olesio & Rasa Sayange’. Dalam kesempatan ini, Gumarang adalah betul – betul sebagai penghibur sejati yang dapat memadupadankan lagu – lagu Indonesia, Latin & Minang modern ke irama tenang sampai rentak gembira ‘blues, foxtrot, cha – cha, rumba, samba & joget’ demi kepuasan pecandu orkes Gumarang.

Reuni GUMARANG
Memaski tahun 70’an, Gumarang kembali menghimpun kekuatannya yang tertunda sejak ditinggal Anas Yusuf Ke Eropa melanjutkan pendidikan musiknya atas sponsor RRI tahun 1960. Kepergiannya saat itu meninggalkan nama besarnya dengan persembahan lagunya “Sayang Tak Sudah: dan berbagai lagu minang modern baik produksi Lokananta, Mutiara & Irama. Diapun menyelimuti duka rekan –rekannya disaat nama orkes Gumarang melambung populer. Bagaimanapun juga, rekan – rekannya di Gumarang menyakini di kelah hari kedatangan Anas Yusuf ke Republik ini akan kembali kepelukan Gumarang. Terbukti, kedatangan Anas Yusuf bersama istrinya yang bukan ‘urang awak’ melainkan wanita Jerman yang bernama lengkap Ingrid Michel (akrab dipanggil Ciak Utih Inggrid) yang dikenalnya di konservatori musik di Jerman. Akhirnya, mereka benar – benar mencuri perharian dan menjadi perbincangan hangat setelah mengadakan pertunjukan ‘pemanasan’ di Gedung Olah Raga Istora Senayan – Jakarta bersama sederetan insan – insan musik lain semisal ‘Elly Kasim, Tiar Ramon, Wiwiek Abidin, Lili Syarief, Eva Nurdin dan penari Tuti Sundari dkk’. Gebrakan perdana orkes Gumarang ditandai sebagai era “Come back” kelompok ini setelah sekian tahun “istirahat”, setelah ditinggal pergi personilnya Anas Yusuf ke Eropa maupun keberangkatan team Gumarang (Asbonm Juni Amir, dan Edin Arifin) ke World Fair di New York selama satu tahun. Tidak lama kemudian, berita duka cita meyelimuti team Gumarang dengan wafatnya ‘Yanuar Arifin’ pianis orkes kelompok ini ditambah dengan meletus kembali peristiwa ‘Gestapu’ maka Gumarang pun ‘kandas’ pula masa kejayaannya. Tapi satu hal pasti, kehadiran orkes Gumarang muncul ke dunia rekaman untuk meraih kembali kejayaannya yang tertunda seletah ‘sepuluh tahun’ lamanya absen didunia musik. Selanjutnya, kelompok ini juga punya point ‘plus’ terlihat ‘ multi ras’ dengan kehadiran seorang seniwati berasal dari Eropa bernama ‘Ingrid Michel’ berbaur dengan seniman – seniman anak Minang (Indonesia) seperti Anas Yusuf, Elly Kasim, Nurseha, & Syaiful Nawas. Perpaduan kultur ‘dua’ negara tersebut makin menambahkan nilai bagi kelompok ini membuktikan kekuatannya membuat satu terobosan baru di musik untuk “Go Public”. Jadi, jelas sudah gambaran kelebihan reuni ini, selain itu kelompok ini ingin menunjukkan kepenggemar kalau sekiranya orkes Gumarang ‘masih ada’. Terlebih dngan kiprah pertamanya yang ditandai dengan memperkenalkan lagu – lagu Minang untuk merangkul masyarakat Minangkabau yang berada di “Kampuang jo di Nagari Urang artinya Kampung Halaman dan di Negeri Orang”. Yang jelas, album yang berisi 12 lagu produksi ‘Prindu’ ini merupakan karya baru yang lebih terkonsep memberi warna baru seperti Angku Doto (Cipt. Nuskan Syarif/ Syahrul Tarun Yusuf) dinyanyikan Elly Kasim, Bapisah Bukannyo Bacarai (Cipt. Anas Yusuf) dibawakan secara duet Anas Yusuf dan Elly Kasim, Babini Duo (Bj Saleh) dinyanyikan secara Trio oleh Nurseha, Elly Kasim, Syaiful Nawas maupun pada lagu Mamandam Raso (Cipt. Dhira Suhud) dibawakan secara menawan oleh Ingrid Michel. Kemudian ditahun yang sama, kelompok inipun merilis kembali album edisi ‘NANBAGALA’ (Bergelar) menonjolkan lagu – lagu karya terbaiknya seperti ‘Ramuak di Dalam, Apo Kadayo, Bundo, Pemenan Hiduik, Laruik & Rang Danau’. Album ini, di dedikasikan kepada Alm. Januar Arifin lahir.. Gadang (besar)... dan berpulang (meninggal).. dirantau. Kehadiran albun Long Play Gumarang Nanbalaga ciptaan Alm. Januar Arifin, adalah merupakan judul yang ‘serasi’ bertepatan dikeluarkannya keputusan Bapak Harun Zain (dahulu menjabat sebagai Gubernur Pemda Sumbar) memberi Piagam Penghargaan kepada Orkes Gumarang sebagai pelopor memodernisasikan lagu –lagu daerah.

GUMARANG DENGAN SISA PERSONELNYA
Seiring dengan perjalanan waktu, nama Gumarang perlahan – lahan makin memudar sejalan dengan kemajuan teknologi dan bertambahnya usia para personelnya yang sudah tidak muda lagi. Berawal Wafatnya sang komponis dan pianis Gumarang ‘Yanuar Arifin’ dengan penyakit maag akut di tahun 60 – an, kemudian disusul ‘Nurseha’ yang juga seorang wartawati “DETIK” meninggal dirumahnya di bilangan Grogol karena penyakit lever akut. Dan kabar kematian si Ayam Den Lapeh tersebut disiarkan pada malam hari, pukul 21.00 WIB di TVRI ‘80an dalam “Dunia Dalam Berita” dan membuat ‘pukulan’ bagi seluruh Insan Musik, PWI & pecinta orkes Gumarang di seluruh Nusantara. Begitu pula dengan ‘Syaugie Bustami’, meninggal dunia di Serawak – Malaysia, mendapat serangan jantung. Pimpinan Gumarang era ke dua ‘Alidir’ mengalami nasib yang sama, meninggal karaena sakit dirumahnya di Pasar Minggu tahun 1990. Demikian pula ‘Hasmanan (alias Reno)’ semasa hidupnya telah berkarya menjadi vokalis Gumarang, kemudian menjadi wartawan “ANEKA” dan almarhum juga dikenal sebagai penulis skenario dan sutradara film Nasional, diawali film Seribu Langkah (1961), Rio Anakku (1973), Anak – anak tak beribu (1980) dan karya terakhirnya Dia Bukan Bayiku (1988). Berikutnya, berturut – turut ‘Taufik’ pemain alat reso – reso dan ‘Khairuddin’ pencipta lagu dan penyanyi era ‘Anwar Anif’ inipun meninggal dunia. Belum lama kemudian, terdengar kabar ‘Joesfar Yusuf’ menghembuskan nafas setelah merayakan pesta pernikahan salah seorang anaknya dengan seorang pejabat atase Imigrasi Indonesia di Hongkong pada tanggal 17 November 1994. Pada awal tahun 2000, personel yang tersisa “Asbon, Syaiful Nawas & Juni Amir” yang sudah lanjut senja tampak lebih mewakili perasaannya mencoba berkolaborasi dengan musisi muda yang sama sehaluan memberi nafas baru lagu – lagu Minang modern. Lagu ‘Laruik Sanjo” sendiri pertama kali rilis pada tahun 1960, dimana lagu ini masih diperdengarkan sampai hari ini (tahun 2008) masih terdengar sama persis dengan 48 tahun silam... FANTASTIS.

Harus diakui, keberadaan Asbon dan rekan – rekannya di Gumarang memang mempunyai kharisma luar biasa di hati ‘urang – urang awak’ dan masyarakat Indonesia. Ketiga nama Legenda diatas tak henti – hentinya menciptakan generasi – generasi baru, menyebar luaskan lagu – lagu Minang modern & Minang Klasik untuk memperkaya khasanah musik Indonesia. Dan kabar terakhir (Agustus 2008), ‘Juni Amir’ telah menghadap Illahi pada tahun 2000an disusul kemudian pada tahun 2005 salah satu pilar Gumarang, ‘Asbon’ juga tutup usia.. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un. Paling tidak, Gumarang masih punya ‘Syaiful Nawas’ (dahulu wartawan SINAR HARAPAN & SUARA PEMBAHARUAN) yang belum kehilangan gaya membawa penggemarnya ke masa –masa nostalgia memperdengarkan musik Gumarang maupun lagu – lagu Minang Modern & Minang Klasik di dua stasiun Radio “Kayu Manis (Minang Maimbau) & RRI PRO 4 FM 92,8 MHz secara nasional. Sekedar catatan, prestasi yang diukir Orker Guarang selama berkarier, merupakan persembahannya yang tak akan pernah ‘berakhir’ di sanubari pecintanya untuk dikenang SELAMANYAAA. Ibarat kata pepatah ‘Indak Lakang Dek Panehh, Indak Lapuak Dek Hujan artinya Tak Lekang di Panas, Tak Lapuk di Hujan”, adalah memang pantas dsematkan untuk GUMARANG.

1 komentar:

  1. terima kasih, artikel yang sangat berguna untuk menambah wawasan musik indonesia.., lagu pertama yang saya dengar adalah laruik sanjo di arena pameran dirgantara di lapangan ikada sekitaran 1950 akhir, kala masih SR, kala itu ortu belum punya radio.., jadi sangat sulit mendengarkan musik.

    BalasHapus