Senin, 03 Februari 2014

FAVOURITE’S GROUP




FAVOURITE’S GROUP Sebagai Grup Favorit di hati Masyarakat…

Favourite’s Group adalah tempat berkumpulnya penyanyi, pencipta lagu & musisi terhebat di sepanjang masa “A Riyanto, Mus Mulyadi, Is Haryanto, Harry (Santoso) Toos & Tommy WS”, mereka bersama-sama mencerminkan akar-akar dan cabang-cabang sebuah musik yang kini memasuki usia yang ke 36 tahun. Pemunculannya di blantika musik pop pada waktu itu cuma singkat, tetapi FG mampu mengukuhkan keberadaannya sebagai grup musik yang menjadi favorit dan istimewa di hati masyarakat dan dibicarakan selama dekade kedepan.



Mulai Terbentuk A Riyanto pimpinan dari “Band 4 Nada” mempunyai gagasan membentuk sebuah group yang bukan sebagai grup band pengiring, karena di era itu lagi booming group-group band seperti : Koes Plus, Panbers & No Koes dll. Namun, Eugene Timoty tidak menanggapi dengan serius sehingga membuat A Riyanto ambil keputusan sepihak untuk hijrah ke studio Golden Hand/Indra Record tempat dimana Mus Mulyadi terlebih dahulu bernaung. Mereka sepakat, menjaga rahasia tanpa diketahui produser Remaco dan menunjuk recording Musica (Metropolitan) Studio di Pejaten yang terbengkalai lama tidak terpakai setelah selesai dikontrak Eka Sapta & Bali Record sebagai tempat merekam lagu-lagunya. Selama tiga hari berturut-turut, mereka berkutat distudio di bantu Ferry Bule sebagai operator. Dari tangan dingin A Riyanto sebagai leader sekaligus penggagas, telah menggubah sembilan buah lagu diantaranya : “Seuntai Bunga Tanda Cinta, Carilah Kawan Lain, Kr Selamat Jalan, Kisah terindah & Setitik Embun”. Akhirnya, Menghasilkan dan menyelesaikan rekaman akhir lagu “Mawar Berduri” .yang fenomenal dengan angka penjualan 3000 keping Piringan Hitam & Kaset. Dan kalau diamati lagu ‘Mawar Berduri’ adalah satu dari sekian lagu pop terbaik yang pernah ada, bahkan sampai hari ini tidak ada yang dapat mengalahkan kepopulerannya. Favourite’s Group mengusung berbagai jenis musik mulai dari Pop Mellow, Klasik, Keroncong, Melayu & Jenaka dan hasilnya terdengar begitu segar dan bertahta di hati pendengarnya. Patut pula mendapat acuan “Cap Jempol” pada vokalianya, bahkan gaya bernyanyi ‘Mus Mulyadi’ yang sangat lugas: murni, indah dan sederhana apa adanya. Merekapun cukup variatif dalam mengemukakan tema lagu-lagunya, tema Cinta Remaja, Cinta Tanah Air & Cinta Musik dirangkumnya dalam berbagai jenis musik pop manis dan tetap terdengar berbeda. Yang pasti, “Favourite’s Group” terbentuk secara spontan tahun 1972, dari “Gabungan Mus Mulyadi dengan Band 4 Nada”. Ide awal nama Favourite’s, diberikan oleh sang penggagas yang brilian A Riyanto dengan harapan ‘selalu menjadi band penting di hati masyarakat’. Formasi FG pertama : diperkuat oleh ‘lima’ personil, yakni Mus Mulyadi (vokal/Rhythm), A Riyanto (Keyboard/Vokal), Nana Sumarna (Bass), Eddy Syam (Gitar) dan M Sani (Drum). Mereka sangat modern dalam bermusiknya, tapi juga sangat maju dengan sentuhan romantisme masa silam dan bahkan berhasil menempatkan nilai-nilai musik dikepala mereka sehingga menjadi kekuatan bagi Favourite’s Group. Kalau kita dengar dengan seksama di album pertama FG, ada cabikan bass ‘Nana Sumarna’ peraih The Best Bassist Recording dalam perayaan PUSPEN HANKAM ABRI - 1974, yang sungguh ‘luar biasa’ pada lagu “Malam Minggu Mesra, Kr Selamat Jalan, Terlalu & Kisah Terindah”. Begitu pula ‘A Riyanto’ membawakan “Seuntai Bunga Tanda Cinta & Setitik Embun” yang juga ditulisnya mengenai kisah-kasih dua sejoli, dia juga memahami gaya remaja di masa itu dan Kelik (A Riyanto)-lah pakarnya dan hampir tak ada yang dapat menandinginya dalam menulis lagu. Namun hal terpenting dari M Sani gebukan drum-nya mampu memperindah sebuah lagu, begitu pula cara bermain gitar Eddy Syam bermain instrumen dengan ritme yang unik seakan punya energi yang seimbang. Pengaruh mereka di FG ada dimana-mana dan sangat bergantung satu sama lain, memberikan darah dan jiwa mereka untuk hal yang mereka lakukan agar bisa menyatu. Hal itulah membuat mereka menjadi band penting, disinilah letak kekuatan Favourite’s Group.



Formasi Baru Melalui album perdananya (tahun 1972), FG dalam waktu singkat berhasil menghimpun massa penggemarnya hingga kepelosok tanah air dan menghantarkannya menerima “Piringan Emas” dan menjadi “Band Favorit” pilihan PUSPEN HANKAM ABRI 1972-1973. Pada akhirnya sampai juga terdengar ke telinga sang produser Remaco, semua personal formasi pertama di kumpulkan olehnya (kecuali’Mus Mulyadi). Diambil jalan keluarnya, Nana Sumarna, M Sani & Eddy Syam yang tidak mau ambil resiko dengan tuntutan sang produser akhirnya kembali bernaung di Remaco dan mengaktifkan “Band 4 Nada”. Ketika berbincang dengan Nana Sumarna, dia menjelaskan bahwa “Almarhum mas’Kelik tidak bermaksud menelantarkan kami bertiga seperti yang Mas Media beritakan saat itu…kami berpisah secara baik-baik dan pada Akhirnya bekerja sama di musik sampai akhir hayatnya”. A Riyanto tetap melanjutkan Favourite’s Group dengan merekrut formasi kedua : Is Haryanto (Drum), Harry Toos (Gitar), Tommy WS (Bass) dan tetap Mus Mulyadi sebagai vocal utama. Mereka langsung mengusung album keduanya, diantaranya “Mimpi Sedih, Aku Yang Kau Tinggalkan, Cintaku Suci & Lagu Gembira”. Bisa dibilang langkah keduanya kurang bisa menyamai angka penjualan debut album pertamanya namun perlu diberi ‘score’ plus untuk “Musikalisasi Puisi” pada “Sajak Buat Gadis Yang Sedih” di suarakan Is Haryanto begitu ‘mengharu biru’ mengingatkan kita pada film Pengantin Remaja adegan dimana Julie membaca surat Romie hasil besutan Wim Umboh pada Tahun 1971, berkat film ini pula pasangan Sophan Sophian & Widyawati menjadi sangat populer. Menurut Is Haryanto “saat di ciptakan almarhum’Kelik (panggilan A Riyanto), lagu tersebut diperuntukkan bagi konsumsi Radio”. Dan sangat tepat karena seluruh radio nasional di eranya, lagu ini acap dijadikan standar sebagai penutup dan pengantar tidur para pendengarnya. Setelah meliris album keduanya, kembali FG merilis berturut-turut album Teratai Putih & Oh Kasian (Album’Vol.3) & Aku Tak Berdosa (Album’Vol.4) dan telah memenuhi panggilan show ke daerah-daerah di seluruh pelosok Indonesia dan berkunjung beberapa negara Asia & Eropah. Pada Keempat album tersebut diatas, kita dapat mendengar pengaruh dari musik The Bee Gees & The Beatles yang digabungkan dengan elemen klasik sehingga merupakan komposisi yang sangat serasi. Setiap rincian lagu begitu menarik perhatian di awal-awal lagunya dan berakhir ada perasaan melankolis. Namun, sangat disayangkan album Aku Tak Berdosa merupakan album perpisahan mereka dengan sang vokalis Mus Mulyadi.



Kehilangan Vokalis Menjelang pembuatan album ke-lima Cinta Monyet (tahun1975), personil FG mulai goyah dengan rayuan sang produser remaco (Eugine Thimoty) untuk hengkang dari Indra Record yang sudah mulai bermarkas di Surabaya. Tapi, tidak bagi Mus Mulyadi karena di saat yang sama masih terikat kontrak dengan Indra Record. Oleh sang produser dua bersaudara (Ing & Ang) ini, melipat gandakan nilai kontrak yang ditawarkan Remaco menjadi tiga kali dari yang diterima teman-temannya di FG dan ke-esokan harinya Mus Mulyadi harus terbang ke Surabaya menyelesaikan kewajibannya dan kelak meluncurkan solo album yang cukup sukses. Kemudian FG tetap melaju minus Mus Mulyadi, mereka tetap mampu tampil istimewa. Mereka bertekad dan profesional, yang tentunya sebuah tantangan secara total dalam melahirkan album-album yang mengejutkan dan tak kala ‘bersuka citanya’ karena para personilnya tidak hanya sebagai pencipta tapi sudah mendapat mandat dari sang juragan FG ‘menyenandungkan’ suaranya. Tergambar pada pemunculan album kejutan berikutnya Layu Sebelum Berkembang (Album’Vol.6), Kejepit Pintu (Album’Vol.7) & Boneka India (Album’Vol.8) dan akhirnya sampai juga pada Album ke 11-nya. Pada album terakhir inilah FG sudah menunjukkan sinyal-sinyal masa rehat-nya setelah tiga tahun membius blantika musik Indonesia. Kepergiannya adalah benar-benar dirasakan suatu kehilangan, karena ke-empat personil FG disibukkan dengan kepentingan masing-masing antara lain: mengorbitkan sejumlah penyanyi baru & mengorbitkan Anak-anak mereka (Vien Is Haryanto & Ari A Riyanto) dan bersolo karier, atau menjadi Guest Star di Group 4 Nada / Band 4 Nada dan membentuk band pengiring The Favourite’s, The Heart, The Meicy, Two face’s. & Penata musik di Musica Studio.



Kehadiran’Vokalis Baru Tahun 1977, mereka hadir dengan munculnya wajah baru yang cukup meyakinkan. Menghilangnya FG beberapa tahun lalu membuat pencinta musik merasa kehilangan dan risau, tapi ketika melihat penampilannya dengan menggamit Mamiek Slamet membuat semua penikmat musik indonesia ‘bersorak’ dan FG belum kehilangan kharisma-nya. Mamiek Slamet ditemukan saat mengisi acara di Taman Ria Monas, mengisi formasi vokal menggantikan Mus Mulyadi yang bersolo karier. Mereka langsung menciptakan musik romantis yang menjadi inspirasi FG, bercerita tentang ‘kejujuran, rasa bahagia dan romansa cinta’ yang di rangkainya kedalam musik yang diusungnya. Mamiek Slamet bermula sebagai penyanyi solo dapat dengan mudah berbaur di grup ini dengan mengandalkan suaranya yang eksotis langsung mengisi barisan lagu-lagu hits di album ini : “Romantika, Patung Emas Bermata Intan, Hutang Budi, Akhir Cintaku”. Mereka menghadirkan nuansa benar-benar baru, seperti terdengar “bunyi” koor di beberapa singel-nya, contoh : “Kau” dinyanyikan oleh Is Haryanto yang biasanya di gunakan pada era vokal grup tahun 60-an atau kelompok vokal grup gospel di gereja-gereja. Merekapun tak kalah indahnya melantunkan lagu ‘Jawa’ dengan cara modern tanpa mengenyampingkan cita rasa etnis-nya, dijumpai pada album “Ireng Manis, Arekku Jalek Kawin, Cangkriman & Rumangsaku dll”. Namun sangat disayangkan, Mamiek Slamet-pun lebih berkonsentrasi dengan sejumlah album solonya sehingga di FG tidak bertahan lama. Dan tidak lama kemudian posisi vokal yang kosong diisi oleh Rahmat salah seorang karyawan Bank. Konon, menurut rekan-rekan di FG keindahan suaranya adalah ‘reinkarnasi’ dari sosok Mus Mulyadi. Lagi-lagi kehadiran vokalis baru ini tidak dapat membagi waktu antara Karier bernyanyi atau tetap menjadi karyawan Bank. Sebagai seorang artis, harus memenuhi panggilan untuk show ke daerah-daerah bersama Favourit’s Group. Hal inilah yang membuatnya mengundurkan diri dari FG dan lebih memilih menekuni menjadi seorang Bankir hingga sekarang.



Reuni Tak diduga dan tak disangka, grup band yang beranggotakan penyanyi, musisi dan pencipta yang sudah populer pada masa itu, kini ‘rujuk’ lagi. Formasi mereka tidak berubah tetap seperti beberapa tahun lalu bedanya hanya mereka andil jadi vokalis “Mus Mulyadi (Rhythm/Vokal), Is Haryanto (Drum /Vokal), A Riyanto (Keyboard/Vokal), Harry Toos (Gitar/Vokal) & Tommy WS (Bass/Vokal)”. Tahun 1978, mereka mencoba memukau dengan kecantikan aransemennya dengan materi lagu yang berlirik puitis –romantis disuguhkan, antara lain : “Satu Kisah Lagi, Saat Yang Terindah, melody Patah hati, Kamar Bisu & Engkau Yang Terakhir”. Lewat album ‘reuni’ mereka ini setelah berpisah sejak tahun 1975, sebagai pengobat rindu ‘menyapa’ para pencinta dan pengamat musik indonesia. Kemudian mereka kembali hadir tahun 1982, dengan nomer-nomer lainnya, “Nusantara Jaya, Terima Kasih Musik, Bunga Yang Terindah, Hai Pemuda dan Selamat Jalan” dengan perusahaan rekaman Mahkota Records. Kehadiran album ini, FG mencoba menawarkan ragam tema musik yang selama ini belum terjamah oleh pemusik negeri ini. Mereka juga menunjukkan bahwa FG masih “solid” dengan kumpul bareng disetiap kesempatan latihan maupun tampil lengkap di pertunjukan show di dalam maupun luar daerah Jakarta. Namun kebersamaan ini menyiratkan duka yang dalam atas kepergian sang penggagas FG untuk selamanya. Pada 17 Juni 1995 A Riyanto sang “Legenda” menghebuskan nafas terakhirnya, dengan penyakit komplikasi Ginjal & Kencing Manis yag sudah lama di idapnya. Kepergiannya membuat insan musik & bangsa Indonesia berduka, sahabat-sahabatnya di FG merasa kehilangan gairah dan menjadi mati suri. Akhirnya Is Haryanto yang masih hubungan saudara dengan almarhum lebih berjiwa besar untuk melanjutkan cita-cita A Riyanto untuk tetap membawa FG menjadi bagian dari sejarah musik pop di Indonesia, seperti yang dicita- citakannya pada saat memberi nama Favourite’s untuk bandnya. Almarhum mas’ Kelik “di ibaratkan seorang pendekar yang memberontak menyuarakan yang tidak pernah terungkap dalam memerangi pelanggaran hak cipta & Pembajakan” ungkap Is Haryanto.



Bangkit Kembali Tahun 2008 adalah dimana grup-grup’60 dan 70-an yang terus bertahan ataupun memutuskan ‘comeback’, antara lain Panber’s, Noor Bersaudara, The Singers, Ayodhia & The Steps dan tak ketinggalan Favourite’s Group. Semuanya bersiap-siap untuk kembali meramaikan dunia rekaman dan panggung musik, menurut Mus Mulyadi “ kami akan merancang sebuah kejutan terkait dengan momen pemunculan baru kami…dan tetap memiliki pesona tersendiri dan berharap makin dikenal tentunya”. Mereka akan selalu tidak kehabisan akal, melanjutkan amanah almarhum dan menunjuk “Harry Lelur” adik kandung A Ariyanto. Itupun juga tidak lama karena terserang stroke, kemudian digantikan “Denny Sami” untuk mengisi formasi Keyboard yang kosong. Sayangnya, sampai saat ini Tonny WS sedang sakit (Tommy WS – wafat di Jakarta, Hari/tanggal: Minggu’21 April 2013), sehingga posisi Bass kembali “Nana Sumarna” mengambil alih. Inti kekuatan Favourite’s Group sebagai grup vokal adalah, tetap mengusung romansa pop yang berseni dan romantis, semoga selalu menjadi salah satu grup vokal terbaik selamanya dan musik mereka bertahan sepanjang masa…Amin

2 komentar:

  1. Terima kasih Bp Jose, lewat artikel ini akhirnya saya jadi tahu bagaimana perjalanan karier Favorite's Group yang lagu-lagunya sangat gemari hingga kini

    BalasHapus
  2. Terima kasih Om Jose atas artikelnya..Saya kebetulan penggemar berat dan cinta mati pada Favourite's Group...Luar biasa artikelnya,

    BalasHapus