Kamis, 21 Agustus 2014

AJENG TRIANI SARDI




AJENG TRIANI SARDI

Nama Ajeng Triani Sardi diPeta perFilman Indonesia di Masa Akhir tahun 1970’an sudah mencatat namanya, penerima Anugerah Piala Kartini  FFI 1979 di Palembang sebagai Pemeran Cilik lewat Film ‘Pengemis Dan Tukang Becak’ garapan Sutradara Wim Umboh pada tahun 1978 adalah prestasi jempol baginya.  Diakuinya bahwa sebelum bermain film Pengemis Dan Tukang becak, Ajeng sudah terlibat  diFilm Kembang-Kembang Plastik/Sutradara Wim Umboh tahun 1977 bersama pemeran Yatie Octavia, Roy Marten, Cok Simbara, Ully Artha, Nenny Triana dll.

Ajeng terlahir dari Biang Pohon yang menghasilkan rantai pengikat yang bercabang-cabang dan berBuah yang Ranum & Harum, dari mulai Nenek HABIBAH  aktris era tahun 1930’an dan melahirkan anak yang menuruni bakat akting kepada  HADIDJAH (93Tahun) termasuk Bintang Film ‘Tiga’ zaman , wafat di Jakarta 9 October 2013, lalu kembali  menuruni bakat seninya kepada Idris Sardi (75 tahun) berJulukan Sang Maesto Biola atau Si Biola Maut, wafat di Jakarta’28 April 2014 dan secara estafet kembali kepada anak-anaknya Santi Sardi, Lukman Sardi dan Ajeng Triani Sardi tentunya.

Usia 4 Tahun sudah berani tampil berAkting dan melakukan dialog tanpa perlu bantuan pengisi suara terlebih di film ‘Bunga Bangsa’ garapan sutradara Sophan Sophiaan dimana Ajeng banyak menggunakan bahasa ‘Belanda,  ‘selama belajar pengucapan dan menghafal dialog, mama ‘Marini’ sangat berperan membantuku karena beliau keturunan Belanda’ ucapnya. Begitupula adegan berbahaya yang dlakukan anak seusia seperti Ajeng di Film Pengemis Dan Tukang Becak, Ajeng masuk diKeranjang Sayuran gendong ‘Christine Hakim’ tanpa pemeran pengganti (Boneka), demikian pula adegan kecebur kali saat Ajeng dikisahkan jualan kue sebrangi jembatan menuju kekampung sebelah lagi-lagi tanpa pemeran pengganti.  Akting Ajeng sangat Natural seperti jerit tangisnya menjadi-jadi karena ketakutannya tidak bisa berenang dan berusaha sendirian untuk selamatkan diri dari dalam kali yang besar untuk ketepian, Ajeng sengaja dibiarkan dalam kali oleh sutradara Wim Umboh untuk dapatkan adegan seAlami yang sudah direncanakan matang pada diri Ajeng tanpa terluka dan hasilkan adegan sempurna dan meraih banyak Penghargaan FFI 1979.

Lahir di Jakarta 21 April 1974 sebagai putri bungsu  ‘tiga’ bersaudara dari orang tua ‘Idris Sardi dan Zerlita Zourida’,  secara otomatis darah seni ‘Akting’ turun temurun dari Nenek maupun Ibunya Idris Sardi yakni Habibah & Hadidjah. Baginya  dunia akting mengalir  apa adanya tanpa dia sadari usia ‘empat’ tahun sudah terlihat diFilm pertama adu acting bersama Tezzar (putra pasangan Yatie Octavia & Sjamsuddin) lewat Film ‘Kembang-Kembang Plastik’.  Sekalipun di film ini Ajeng belum banyak dialog, namun diakuinya adalah film yang paling berkesan baginya, dia terIngat di film ini menggunakan adegan ‘kecupan’ di kening dari Tezzar sehingga saking malunya sama adegan ‘kissing’ tersebut yang disaksikan para crew selama syuting Ajeng sampe menangis...... “Sejujurnya Film Kembang-kembang Plastik yang dimana aku berperan sebagai tante Yatie Octavia ‘kecil’ dan Tezzar menjadi kekasih masa lalunya dimana scenenya aku menjadi permaisuri dan si Tezzar jadi sang pangeran, sejujurnya aku sendiri belum pernah lihat filmnya hingga sekarang,  karena film ini dimasa itu untuk 17 Tahun keatas dan belum boleh nonton”.

Ajeng Triani Sardi berturut-turut membintangi Film-film Setelah Kembang-Kembang Plastik & Pengemis Dan Tukang Becak,seperti: ‘Anak-anak Tak berIbu/sutrd. Maman Firmansyah (1980), Gadis/Sutrd. Nya Abbas Akup (1980), Bunga Bangsa/Sutrd.Sophan Sophiaan (1982), Bila Saatnya Tiba/sutrd. Eduart P Sirait (1950) & ‘tiga kali bermain Operet Lebaran bersama PAPIKO-Titiek Puspa maupun Album Operet Semut Hitam, Semut Merah bersama Chicha Koeswoyo. Diakuinya bahwa ‘waktu itu belum mengerti bagaimana rasanya bermain film, semuanya dijalani dengan enjoy, dia ingat yang sering menemaninya diLokasi syuting  ‘Suster Iyem’ adalah suster kesayangan Ajeng dan dibantu Astrada untuk membacakan dialog kemudian dihafalnya.  Film Pengemis dan Tukang Becak adalah film dimana Ajeng dipertemukan sama Lukman Sardi, menurutnya setelah pulang sekolah Ajeng dan Lukman  langsung ke lokasi Syuting dan Chemistry antara Ajeng dan Lukman seperti layaknya kakak adik sehari-hari. Begitu juga saat mereka berTiga berSaudara dipertemukan lewat film Anak-anak Tak Beribu, Ajeng sangat berkesan ‘kita di hujan-hujanin jam ‘dua belas’ malam.... terus si mbaq Santi itu di rumah suka ajak main yang ternyata permainannya akan dipakai di shooting, jadi dia ngarahin aku dari pas main di rumah juga tanpa kasih tahu  itu nanti ada di skeneraio dan pas shooting aku bari ngeh, ooooooo... dia ngajak main seperti itu untuk adegaaaaaaaan. Ajeng kembali menceriterakan kenangan syuting berTiga dengan saudaranya, mengisahkan ‘palingan yang lucu, kalau di sekolah kita bertiga dijemput mobil film, Lukman dengan dunianya nggak tahu ngapain di mobil , sementara mbq Santi nguyah permen karet.. aku suka minta, gak dikasih...hihihihihihi.  Ada kisah lain yang Ajeng ingin bagi saat main berTiga saudaranya di film Anak-anak Tak Beribu, usianya sudah ‘enam’ Tahun di ceriterakan bahwa “aku endingnya sesuai scenario dibuat meninggal dan memakai baju panjang yang kata orang aku terlihat sangat cantik... padahal buat aku nggak betah dan  Pas adegan aku meninggal mbq Santi menangis... katanya mbq Santi sempat mau ketawa tiba-tiba aku nafas karena sudah ketiduran... hahahah dan shootingnya benar-benar di Pembuangan Sampah.


Perjalanan Rumah Tangga yang terbina yang dahulu Harmonis tiba-tiba menjadi bara membakar dan tak peduli terjadi pada siapa saja tanpa pandang bulu, begitu juga ‘Idris Sardi & Zerlita Zourida’ terhempas diterpa Gelombang dan anak-anak menjadi saksi tanpa harus berbuat apa-apa diDunia kecilnya.  Ajeng juga alami hal itu, ceriteranya begini: “ waktu papa pergi dan kita putuskan ikut, aku belum mengerti bahwa itu akan cerai.. tapi anak-anak semua pengen ikut papa nggak ada yang mau ditinggal dan aku masih terlalu kecil... bingung dengan situasi dan bingung kenapa jadi pembicaraan orang-orang  atau media, kita sekolah nggak nyaman di jauhin teman karena mereka terpengaruh oleh berita ibu-ibunya yang salah dan hanya dengar dari media... Kami ikut papa tanpa dipaksa, sampai pada pertanyaan hakim pengadilan waktu itu, kita semua memilih ikut papa... itulah kelebihan papa yang sampai sekarang sulit aku pahami juga, papa disiplin, keras (tapi tidak pernah memukul anak), tapi kok hatinya bisa dekat sekali sama kami anak-anaknya”.  Akhirnya Idris Sardi menikahi Penyanyi dan Aktris cantik ‘Marini’, Ajeng juga banyak temukan kenangan Indah selama menjadi Ibu Tiri, “Mama Marini dan saudara-saudara Tiri... Selalu ada waktu kumpul keluarga, Liburan sama-sama dan maaf ... Sebagai Ibu Tiri, mama Marini itu mungkin seribu satu dari sekian ibu tiri yang ada.. Beliau hangat, tidak pernah membentak,  sangat menghargai privacy anak dan disiplin,  beliau juga mengajarkan  aku akhirnya jadi gesit dan mandiri”.

Peran Idris Sardi terhadap diri Ajeng keMusik Sangat-sangat mendukung penuh  dan men support terjun di dunia barunya, tepatnya saat duduk dibangku SMA ajeng sudah berkutat di Musik Klasik. Adalah Idris Sardi  memasukan Ajeng diSekolah Musik YPM (Yayasan Pendidikan Musik) di Manggarai, bermula Ajeng les Piano khusus Klasik dan ternyatanya Ajeng suka dunia klasik dan cinta banget sehingga belajar sampai tingkat ‘Pra Konservatori’.  Dukungan Idris Sardi terhadap diri Ajeng maupun anak-anaknya ternyata lebih mengutamakan anak-anaknya ke bidang pendidikan sekolah dari pada dunia Film, tujuannya biar anaknya masing-masing punya bekal kelak dihari tuanya.  Karena Musik dan Sekolah, sehingga Ajengpun sempat hilang dari depan kamera seiring lesu darahnya Film Indonesia yang lebih banyak film esek-esek. Ajeng baru muncul dicinema elektronik yang terkenal dengan acara Sinetron  ‘Noktah Merah Perkawinan seri 1 & 2 bersama pemain Ayu Azhari, Teddy Syah’ dan sebelumnya Ajeng sudah muncul di Sandiwara Komedinya  ‘Harry de Pretes berjudul Dongen Langit’  bersama pemain Cut Tari, Mpok Nory, Ari Tulang &  Bukan Superman/Sutrd.Deddy Mizwar.   Kini, Ajeng sudah mengajar ‘Piano’ di ‘empat’ Sekolah Musik antara lain: 

(1). Jakarta Konservatori,
(2). Indonesia Piano Art,
(3).Purwacaraka,
(4).Otti  Jamalus Music House,

Adalah pembuktiannya bahwa apa yang sudah diPelajarinya dahulu kini sudah menurunkan dan mengajarkan kembali kepada orang lain.

Ajeng Triani Sardi, saat ini sudah tidak sendiri dan sudah temukan sang Pangeran yang seperti saat berperan diFilm Kembang-kembang Plastik, bedanya itu hanya  rekaan belaka yang kini adalah ‘nyata’ benar- benar menemukan sang Pangeran sesungguhnya ‘Guntur Indrajaya’ dan mengikat pernikahannya di Jakarta 1 Desember 2001 dan sudah melahirkan sang Penerusnya ‘Antonius Eliezar Indrajaya Noorman (Ezar)’ lahir di Jakarta’23 Agustus 2002.  Menurut Ajeng, masih ada yang mengganjal di dadanya yakni: menunggu kesempatan bermain bareng dengan Slamet Rahardjo..... ‘Dengan om Slamet.. Aku kagum dengan aktingnya, nggak bisa dipungkiri deh, siapapun  dapat kesempatan main dengan om Slamet pasti merasa WOW... Satu hal lagi, Om Slamet dari jaman dulu, bukan hanya tampan sebagai actor tapi punya charisma sampai sekarang... Suaranya wibawa banget!!!

Film-film era tahun 2000’an Ajeng Triani Sardi pun sudah ambil bagian, seperti: ‘9 Naga,  Love, Sanubari Jakarta’ dan bila disuruh memilih antara Musik & film, maka langsung disambernya bahwa ‘ musik baginya hanya sebagai performancenya dan  tetap sebagai Guru pengajar dan akan ditanggalkannya untuk lebih mengUtamakan di Film sebagai damba’annya kembali meneruskan perjalanan masa kecilnya untuk dia tuntaskan di hari tuanya. Seperti Lukman Sardi yang tiada matinya hingga saat ini wara-wiri di kancah cinematik karya anak-anak Indonesia dan wara-wiri juga meraih penghargaan atas prestasinya, padahal bila Ajeng ingat masa kecilnya, kalau Lukman Sardi harus shooting sampai malam hari, “dia ngambek, marah-marah karena ngantuk dan capek... eeeeeh sekarang dia yang keterusan!!”.

KeDukaan saat diTinggal pergi orang yang diCintai, adalah benar-benar merasa separuh jiwa kita hilang dan lama sekali menghitungnya kapan bisa mengubur kenangan-kenangan indah saat bersama dikebersamaan itu. Begitu pula saat sang Maesto Idris Sardi pergi, adalah Ajeng Triani Sardi terpukul  dan katanya: hiburan setelah kepergian papanya  adalah meminum Kopi bisa sampai ‘lima’ kali dalam sehari dan curahan hatinya pada JCL  sebagai berikut:  “rasanya sangat kehilangan sekali dan susah diungkapkan dengan kalimat karena batinku hanya dekat dengan papa dan papa yang selalu mensuport kemajuan musik ku dan segala hal yang lain.... Segala surprised-suprised kecilnya yang buat aku terharu sampai detik-detik dekat kepergiannya itu yang belum bisa aku hapus dan entah sampai kapan, mungkin aku menunggu Tuhan menjawab semua pertanyaanku... Kubiarkan sabar menunggu sampai ajalku jua mengakhiriNya dan kelak terJawab atas semua.... Amin”.

7 komentar:

  1. jeng lucuuu banget dan imoet.....ajeng jg main di film gadis 1980

    BalasHapus
  2. jeng lucuuu banget dan imoet.....ajeng jg main di film gadis 1980

    BalasHapus
  3. BENAR sekali pak @Andika Rachmad, Ajeng Triani Sardi saat masih belia sangat lucu dan teramat lucu malah, BETUL juga, mbq Ajeng main di film GADIS/Sutradara,Nya Abbas Akup, lewat film ini juga tante Titiek Puspa menemukan wajah baru untuk direkrutnya kedunia akting.. tahukah Dewi Yull, inilah film pertamanya dan film yang mempertemukan jodohnya bersama Ray Sahetapy hasil mak comblang dr tante Titiek Puspa juga....

    BalasHapus
  4. Bila Andika, ingin melihat foto2nya Ajeng disaat sekarang ini bisa intip FESBUK Jose Choa Linge 1 dan Jose choa linge 2, sekarang mbq Ajeng sdh punya 1 jagoan loooh..

    BalasHapus
  5. Bila Andika, ingin melihat foto2nya Ajeng disaat sekarang ini bisa intip FESBUK Jose Choa Linge 1 dan Jose choa linge 2, sekarang mbq Ajeng sdh punya 1 jagoan loooh..

    BalasHapus
  6. Suka bgt film bunga2 bangsa... Wktu nonton, msh kecil. Nontonnya di tipi TPI... Dlu TPI bnyak siarin acara2 bgs, sbelum akhirnya menurun en jdi mnc...

    BalasHapus
  7. Suka bgt film bunga2 bangsa... Wktu nonton, msh kecil. Nontonnya di tipi TPI... Dlu TPI bnyak siarin acara2 bgs, sbelum akhirnya menurun en jdi mnc...

    BalasHapus