Selasa, 25 Desember 2012

ALBERT SUMLANG



ALBERT SUMLANG...

Lahir di Situbundo- Jawa Timur, 15 April 1942, dialiri darah seni dari orang tuanya ‘Sam Sumlang’ berasal dari manado adalah seorang pendeta yang menguasai sangat baik alat tiup Saxophon disalah satu Gereja diKupang dan selalu unjuk kebolehannya didepan para jamaat pada saat mengiringi koor lagu2 Gospel memuja Tuhan atau hari2 agama lainnya. Nama lengkapnya ‘Albert Josef Sumlang’ hijrah ke kota Jogyakarta dengan membawa lari salah satu saxophon milik sang ayah Sam Sumlang secara diam2 dan menaruh beberapa batu dalam box saxophon seakan2 masih berat padahal sdh melopong, itulah salah satu keisengan dari kenakalan Albert yang diceritrakan anaknya kepada penulis, selama di kota Gudeg ini Albert si pengembara sudah mengisi alunan tiupan saxophon mautnya dibeberapa Cafe & Hotel sambil mendalami sekolah musik tiup sehingga mempertemukan seorang gadis manis ‘Rini Azis’yangdinikahinya dan memberikan ‘lima’ putra-putri yang sekarang sudah tumbuh dewasa ‘Billy-46Tahun, Alvin-43Tahun, Arnold-40Tahun,Andy-28tahun, Novi-25tahun’ dan beberapa cucu.

Albert Sumlang kemudian meninggalkan kota Jogyakarta menuju kota Medan atas ajakan salah satu orang penting dikota Medan yang bernama ‘Pardede’ dan dipekerjakan di perusahaan ‘Pardede Tex’ selama enam bulan lamanya, Albert si petualang tak merasa betah bekerja dikantoran dan merasa musik adalah panggilan hati dan sebagai jiwa petualang tak mampu dikungkung walau bersangkar emas sang burung ingin lepas bebas sesuka dia mau pergi sang Albert ingin lepas mencari dimana dia inginkan sehingga membuatnya hijrah ke Ibu kota Jakarta dan menjadi pemusik disejumlah Restoran maupun Night Club dan Tuhan sudah menggariskan hidupnya dipertemukan Rinto Harahap dan mengajaknya bergabung di kelompok The Mercy’s menggantikan posisi Rizal Arzad yang hendak sekolah di Jerman dan mulailah tiupan soxophonnya telah memberi warna baru di group ini.

Bergabungnya Albert Sumlang di The Mercys telah memberi pengaruh besar lihatlah album perdana yang diterbitkan grup ini luar biasa mampu menyeimbangkan dengan grup band yang lebih dulu muncul di ibu kota seperti ‘Koes Plus, Panbers dan Favourites Group’, tak terbayangkan grup band yang semula dari daerah seberang Sumatera Utara tepatnya kota Medan mampu bersanding di Ibu kota menjadi band Nasional adalah prestasi luar biasa dan album perdana ‘Tiada Lagi’ adalah gebrakannya dan langsung diganjar penghargaan sebagai Band Kesayangan priode tahun 1972-1973 dan meraih Golden Record dengan angka penjualan albumnya seribu keping. Kehadiran Albert Sumlang telah memberi nyawa dan keterikatan batin sesama personal lainnya seperti Rinto Harahap, Erwin Harahap, Charles Hutagalung dan Arnold Panggabean membawa nama The Mercy’s sangat dipuja lewat album2nya al: Padamu Tuhan/vol.2, Mama& Papa/vol.3, Jangan Lagi/vol.4, Usah Kau Harap/vol.5, Dalam Kerinduan/vol.6,Kau Biarkan Kusendiri/vol.7 dan Kembali Sayang/vol.8.
Tahun pertengahan 70’an, setelah menamatkan album ‘Kembali Sayang/vol.8’ Albert Sumlang keluar dari The Mercy’s dan mencoba mengumpulkan saudaranya ‘Vonny Sumlang, Eddy Sumlang, Yeafeth Sumlang dan sahabatnya Ferry Pangalila (pencipta lagu dari ‘ Balada Pelaut) membentuk grup keluarga diberikan nama Albros (Albert Sumlang Bersaudara), sayangnya grup ini hanya bertahan satu tahun saja dan kembali Albert Sumlang berpetualang ke negeri ‘kincir angin’ mengamen di lorong KA ‘Savoy’ bertemu dengan Band legendaris dunia ‘Kayak’ dan menyempatkan berkolaborasi dan bahkan nama Albert Sumlang sdh terpatri disejumlah Cafe2 dan Hotel2 di negara Belanda. Kemudian keluarga Albert menceritrakan kembali kepada penulis bahwa Grup ABA pernah menawarkan kepada Albert untuk bergabung mengisi permainan saxophonnya namun ditolak oleh Albert karena semata2 hanya Albert sangat merindu Negara dan buah cintanya di Indonesia dan rela meninggalkan nama popularnya untuk berkumpul sama orang2 yang dikasihinya untuk kembali ke Tanah air. Albert lagi-lagi kembali berkumpul bersama para sahabat2nya di The Mercys dan muncul berREUNI dengan persembahan album ‘Mimpi’ produksi Lolypop sebelum benar2 The Mercys bercerai berai dan Albert sudah muncul sebagai Solois disejumlah album Instrumentalia dan salah satu album Solo instrument dari grup band Legendaris Koes Plus cukup sukses dipasaran bahkan intro musik lagu Nusantara di pake TVRI sebagai jingle untuk acara hiburan dan sebagai pengiring musik saxophone disejumlah album penyanyi ternama Indonesia dan Albert juga menyempatkan bergabung di Group Black Sweet.

Albert sang petualang adalah seorang pria yang penuh tanggung jawab terhadap kehidupan kelangsungan hidup keluarganya, bayangkan rahasia tentang penyakit yang di Idapnya ‘kangker hati’ dan dokter sudah mengUltimatum bahwa sisa hidupnya hanya dua tahun lagi tetap disimpannya sebagai PR yang harus dikerjakan sendiri dan bila sudah tidak mampu rahasia hati PR tersebut tak mampu dikerjakannya maka akan meminta bantuan setelah perhitungannya sisa dua bulan lagi menyambut kematiannya. Albert mengumpulkan semua anak2 dan istri, diberitakannya bahwa kalian harus menerima kabar baik ini bahwa papi tidak lama akan meninggalkan kalian dan permintaan terakhir papi, kalian harus bersatu dan saling kasih mengasihi satu sama lain karena sebentar lagi papi akan menghadap sang kuasa. Bagai guruh menghantam batin anak2nya bagaimana tidak sang papi begitu rapih menyimpan rahasia kematian begitu lama dan ingin rasanya mengganti sakit dan penderiataanya untuk berbagi kepada kami2 anaknya, kediaman papi memang beralasan karena dikeluarga kami selalu ada cinta kedamaian dan pemersatu untuk hadapi hari esok walaupun yang terjadi bagi kehidupan seniman tidak pernah memberi jaminan hidup layak tapi bagi keluarga Albert Sumlang adalah sudah memberi banyak dari melihat dan merespon bahwa hidup bukan materi sebagai perioritas dan yang utama adalah telah memberi hiburan kepada manusia untuk mencintai namanya seni dan para pelakunya untuk dihargai itulah yang membuat keluarga ini bertahan.

Bulan Desember dimana bulan yang dinanti2 sebagai bulan yang penuh kasih dan Kudus menyongsong hari kelahiran Isa Almasih,tanggal 8 desember 2009 sang Legenda Saxophon Albert sumlang benar2 telah dipanggil Tuhan. Banyak kenangan indah terhadap apa yang pernah dibuktikannya kepada negaranya bahwa prestasinya sebagai peniup saxophone sangat dihargai di negara Amerika, saat pernah bersama ibu Tutut (Sri Hartati Rukmana) dan Rinto Harahap melawat sebagai duta seni kebudayaan indonesia dengan berkeliling negara. Salah satu negara yang disinggahinya Amerika dan sang peniup saxophon Albert Sumlang unjuk gigi disalah satu Pub, musisi setempat bertanya dari mana asalnya? dijawab Albert indonesia, si bule heran Indonesia itu letaknya di negara mana?, kembali dijawab Albert Bali, spontan si bule terkaget2 dan sangat mengenal kota Bali dari pada negaranya Indonesia. Sang bule berujar baru tahu ada musisi tiup ‘you are very briliant’, negara yang saya tidak kenal dan sekecil itu ada manusia bisa tiup saxphon seperti suara ringkikan suara kuda dan sangat Rock & Roll... god. Dan Alvin putra kedua dari Albert adalah sang pemberontak, dia merasa tidak mampu dialiri seni meniup saxophone dan pengajaran papi sangat disiplin dan keras terhadap anak2nya dan pernah menggelandang diluar rumah dan menanggalkan nama besar Albert Sumlang. Sekarang baru disadarinya sang papi ingin membekali anak2nya ilmu saxophone untuk bekal kehidupan anak2nya dan hanya kedua saudaranya Billy dan Andy yang benar-benar menguasai ilmu tiup yang diturunkan sang papi dan bagi Alvin tak mengapa justru ilmu mengolah vocal yang didapatnya secara otodidak dari pergaulan diluar rumah akan dikombain bersama saudara2nya Billy/ Alto Saxophone, Andy/Tenor Soxophone dan dibantu para sahabatnya Kiki/Gitar, Yayank/Drum dan Steven/ Kyboard membentuk grup band ‘Albert Sumlang Junior’ menghidupkan kembali The Mercy’s dan dikelak hari tidak malu dikatakan Albert Sumlang Junior sang pendompleng, tepatnya kami sebagai Reinkarnasi dari The Mercy’s karena kami adalah anak2 dari ayah Rinto Harahap,Erwin Harahap, Reynold Panggabean dan Charles Hutagalung ungkap Alvin mengakhiri obrolan ini.

3 komentar:

  1. Selamat jalan Albert Sumlang, Rest In Peace. Karya mu tetap ku kenang, karena tiupan saxophone bisa menggetarkan jiwa dan menghibur.

    BalasHapus
  2. Mau nanya ni opa pdt sam kan katanya berasala dari manado(dari marga memang ia) pertanyaan nya saya dengar dari keluarga saya dan warga kampung saya katanya opa pdt sam berasal dari desa tanggari kec airmadidi kab minahasa,apakah benar,trima kasih

    BalasHapus
  3. Mau nanya ni opa pdt sam kan katanya berasala dari manado(dari marga memang ia) pertanyaan nya saya dengar dari keluarga saya dan warga kampung saya katanya opa pdt sam berasal dari desa tanggari kec airmadidi kab minahasa,apakah benar,trima kasih

    BalasHapus