Selasa, 25 Desember 2012

JASJIR SJAM



JASJIR SJAM lahir di Sawah lunto-Sumatera Barat, 22 Maret 1943, masa kecilnya hanya sebentar menikmati panorama Rumah gadang yang bertebaran dimana2 karena usia 7thn harus rela melepaskan semua kenangan tentang ‘gunung,sawah,sungai,pohon dan handai tolan’ untuk mengikuti ayahnya H.Sjamsuddin Sutan Mangkuto Sati & ibu Hj.Jaunah Binti Thaher ke Tanah Jawa. Ayahnya yang seorang pegawai pemerintahan menjabat sebagai dirut dimasa thn.1969 itu sudah pensiun dan hijrah ke ibu kota Jakarta dan Jasir Sjam kecil disekolahkan ke Bandung bertepatan saat terjadi sejarah keganasan Westerling dibeberapa daerah dan keluarga ini tinggal di hotel Prianger- jl.Afrika Selatan sebelum menempati rumahnya di jl.Aceh- Bandung Selatan (bertetangga ayah Elfas Secoria).

Dalam usia 13tahun sudah menulis lagu ‘Menanti’, sayangnya lagu ini belum terekam hingga hari ini, namun saat SMA sdh menjadi ajang keluar masuk sebagai personil dibeberapa Band yang tersohor di Bandung dimasa itu, seperti: ‘Tole Ale, Bhineka Ria dan sering mengikuti show2 dibebearapa daerah Jawa. Suatu hari saat show di suatu hotel di bandung mendampingi artis ibukota dan para seniman jazz ‘Jack Lesmana,Kiboud Maulana, Salanti Bersaudara, Mus Mualim dan Jasir Sjam sbergabung di grup Eddy Karamoy (freelance) sebagai Home Band mendampingi penyanyi Ibu kota Jakarta dan secara diam2 artis2 ibu kota ini merekam lagu ‘Nita Sayang/ ciptaan Jasir Sjam’ lewat speaker yang dinyanyikannya bersama ‘Oce Sapulette’, konon ceritra duet mereka ini disebut2 sebagai Everly Brothers made in Prahyangan.
Suatu hari Jasir Sjam dibuat berang saat mendengar lagu ciptaannya dinyanyikan ‘Salanti Bersaudara -Nita Sayang/cipt.Jasir Sjam’ dan direkam dalam bentuk piringan hitam (Plat) diperdengarkan dimana2 dan menjadi popular diradio2 dimasa itu. Akhirnya diputuskannya untuk bertolak ke Jakarta dan menuntut di Irama Records milik mas Yos dan terkejut juga berjumpa kembali Jack Lesmana lalu jasir sjam diajak berbahasa Belanda ‘menawarkan kerja sama’ sehingga niat untuk menuntut malah lupa segalanya. Jasir sjam akhirnya ditawari bekerja di irama records dengan royalti pembayaran Rp.2,500,- (dua ribu lima ratus rupiah) per-tahun untuk setiap lagu ciptaan. Tahun.1965 Jasjir Sjam ditawari bergabung di orkes Bayu/pimp.Papo Parera dan menelorkan penyanyi Ida Royani album Dinamika/cipt. Jasir Sjam saat itu Ida Royani usianya baru menginjak 11thn dan lagu ‘Bintangku/cipt.Jasir Sjam menjadi hits’. Keberhasilan Album Ida Royani tak membuat nama Jasir Sjam terangkat naik bahkan kesepakatn royaltipun tertahan dengan seribu janji palsu dan melihat gelagat kurang sehat dari Irama records membuat jasir sjam memilih hengkang mencari studio baru untuk sambut hari depannya.

Thn.1966, Jasir Sjam sudah bergabung di Remaco studio sebagai pencipta lagu untuk dibawakan Ernie Djohan lewat persembahannya ‘Merpati’ iringan Zaenal Combo dan oleh Zaenal Arifin memintanya bergabung sebagai gitaris. Selama di Remaco dia menangani banyak hal dari mencarik artis penyanyi baru, melatih vokal dan serabutan diterimanya dengan ikhlas, sejumlah penyanyi papan atas saat itu seperti Anna Mathovani, Bob Tutupoli,Tety Kadi, Ernie Djohan, Ida Royani, Titiek Sandhora dll adalah anak didiknya yang sudah ditangani untuk penata vokalnya. Keuletannya sebagai pekerja distudio cukup keras dan disegani sama anak2 band seperti Buana Suara, The Disc, Electrik dan Band 4 Nada (sebelum era A Riyanto) sering dikumpulkannya untuk sesi rekaman bersama penyanyi solo. Memasuki tahun 1971, Jasjir Sjam merasa hatinya tercabik2 saat tervonis dan difitnah salah seorang operatornya bahwa jasir sjam menggelapkan uang solar dan menerima iklan ‘Zip Top, Susu SNM’ diluar sepengetahuan bos dan tercetus omongan dari Eugine Timoty ‘ Bila si Jasir Sjam keluar, maka 1000 Jasir Sjam lain akan datang sebagai penggantinya’, yang mana merasa selama ini kesabarannya tidak ditolerir lagi dan tidak mempertanyakan lagi keloyalitasannya masuk kerja dari jam.10,00 pagi dan baru pulang jam 05,00 dinihari dan berlanjut setiap harinya. Jasir Sjam sering melupakan waktu untuk berleha2 kumpul bersama keluarga, tapi malah sebaliknya diperlakukan tidak adil dan ingin memberi pelajaran dan pembuktian omongan tersebut apa iya setelah Jasjir Sjam keluar apakah akan datang 1000 Jasjir Sjam-Jasjir sjam lainnya yang bisa tangani Musisi, Penyanyi, Aransemen Lagu dan Pelatih vokal?, ‘kita lihat saja nanti’ gumam Jasir Sjam.

Setelah menerima penghargaan atas lagu ‘Merantau’ yang dinyanyikan Titiek Sandhora sebagai lagu favorit Puspen Hankam ABRI-thn.1971, beberapa hari kemudian setelah ajang ini maka Jasir Sjam memutuskan hengkang untuk tidak lagi berkutat di studio recording dan memilih hijrah ke Bangka Belitung sebagai pekerja di ‘PN Timah’ dan sebagai langkung (sejenis training) dipulau Belitung. Baru beberapa bulan di pulau ini datang artis top ibu kota show dan bertemu Bing Slamet marah ‘ngapain loe dipulau ini disaat namamu sedang jaya-jayanya, mending elo kembali ke jakarta’ dan Jasir Sjam harus kembali lagi ke jakarta karena menerima surat panggilan dari radio RRI untuk menerima penghargaan atas lagunya ‘Putus Cinta Dibatas Kota penyanyi Titiek Sandhora menjadi juara I dan menjadi juara harapan untuk Lagu yang terinspirasi kisah cinta antara Yul Chaidir dari radio RRI pusat dengan gadis penyiar radio RRI Padang berjudul ‘Tiada Putus Tiada Akhir’ masih dengan penyanyi Titiek Sandhora dalam ajang Puspen Hankam ABRI 1972. Jasir Sjam bertolak lagi ke Bangka Belitung meneruskan pekerjaannya dan mendengar kabar bahwa penyanyi solo dan home band mati suri berimbas dengan kehadiran grup band-band seperti ‘Koes Plus, Panber’s, Bimbo, D’lloyd, The Mercy’s, Madesya Group’,dll.

Sekembali di jakarta, Jasir Sjam mendirikan studio yang diberi nama ‘Sanggar Janur’ yang diambil dari potongan namanya dan istrinya dari ‘Jasir Sjam & Nurwaty’ di kediamannya ‘Pemulang Bukit Indah Blok C.I/No.17 mengajarkan vokal dari anak-anak sampai dewasa. Yang unik dari Jasir Sjam calon murid2 harus ditest terlebih dahulu dengan syarat sbb: tentang, apakah ‘sumbang/fals, ketinggian nada, bakat,kemauan keras’ dan bila sdh memenuhi syarat tersebut maka murid tadi akan diajarkan sama seperti rumah sekolah2 atau akademi yang mengajarkan ‘vokal,menerima teori, praktek dan ulangan’. Terbukti anak2 didiknya sudah banyak yang berhasil semacam Dina Mariana,Iis Sugianto, Sundari Sukotjo,Hetty Koes Endang,Titiek sandhora, Tanty Josepha, Harvey Malaihollo,Melky Goeslow, Aria Junior,Vivi Sumanti, Arie Koesmiran, Melky Goeslow, Usman Bersaudara yang dijumpainya sedang mengamen di Blok S dll. Jasjir Sjam sebagai putra bangsa yang hidup dari senimannya sudah hasilkan lebih dari 400 judul lagu, lagu yang masih bertebaran direkam ulang oleh banyak penyanyi masih terdengar, seperti: ‘Manis & Sayang, Merantau,Kupergi jauh, Nona Tanpa Nama,Kerinduan,Hilang Tak Berkesan, Apa Salahku,Jangan Kau Rayu, Rato Denai,Panggilan Desa, Selamat Tinggal kampung Halaman, Mencari,Dia Kukenang, dll’. Jasir sjam sudah banyak memberi ilmu dan sudah menghantarkan muridnya ke gerbang sukses, sebagai guru tentunya merasa bangga melihat para muridnya sukses dan berharap kelak akan mengingat dimana mereka dulu pernah mendapatkan ilmu tersebut dan akan kembali mengucapkan ‘terimakasih’ untuk ilmunya sebelum sang guru Menutup Mata terakhirnya..

Bila kita kembali dimasa keEmasan karya2 seorang sang jenius seperti JASIR SJAM, maka kita akan selalu mengenang seniman ini yang syarat dengan prestasi dan pengabdiannya mengangkat beberapa nama sejawatnya menjadi lebih populer melebihi namanya sendiri, sebut saja 'Titiek sandhora, Tanti Josepha, Harvey Malaihollo,Iis Sugianto, Vivi Sumanti, Usman Bersaudara, Dina Mariana, Melky Goeslow,dll. Namanyapun terpatri sebagai seniman yang memberi peluang beberapa musisi mendapatkan tempat dihati masyarakat, lihatlah Duo Kribo, duet Titiek Sandhora & Muchsin dan masih banyak lagi nama2 yang mengisi lembaran sejarah peta musik indonesia ini. Sudah sering kita hadir diundangan para Musisi dan penyanyi solo menggelar Konser di tempat2 besar dan megah tanpa sedikitpun menoleh kebelakang para pencipta era Jasir Sjam,Yessy Wenas, dll, seyogyanya mereka masih punya hits2 yang melegenda dengan para penyanyi yang masih hidup sebagai saksi hidupnya saat masih merasakan kejayaannya. Wahai para EO apakah karya2 seniman semacam Jasir Sjam tak layak diangkat kembali untuk diberi kelayakan ditempat teratas dengan lagu2 dan penyanyi Asli untuk sebuah konser sebelum 'Menutup Mata Terakhirnya' ingin kembali mengenang lagu2nya dimasa dahulu untuk terakhir hidupnya agar 'tidur panjangnya dengan senyum kemenangan bahwa Bangsa dan Negaranya masih pedulikannya'.. semoga niat ini terketuk hati para dermawan yang menggilai konser2 tunggal penyanyi/Musisi papan atas Lokal dan Mancanegara agar mengenyampingkan egonya dan melirik para komposer masa lalu dan saya pastikan bukan saja pundi2 Amal yang kalian dapatkan tapi pundi2 keuntungan dan pujian pasti bersambutan, Semoga...Amin YRA

3 komentar:

  1. Jasir Sjam memang tokoh musisi hebat yang nggak banyak ngomong tetapi lebih banyak bekerja. Bukan demi dirinya semata-mata, tetapi banyak yang malah demi kemajuan penyanyi atau musisi lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal bung Fernando3z.... Betul sekali bung, om Jasir Sjam sampai hari ini di beri kesehatan oleh Allah SWT sehingga masih sering Jumpa dan berkirim kabar.. Walaupun baru saja diTerpa keMalangan dengan wafatnya sang Istri, namun om Jasir Sjam masih mempunyai semangat bertahan hidup untuk Musik dan karya2nya!!.. Amin YRA

      Hapus
  2. Tulisan yang bagus dan menyentuh Om Jose..Jasir Syam adalah ayah saya...
    Salam sukses buat Om Jose dan keluarga yah..Terima kasih..

    BalasHapus