Senin, 02 Juni 2014

CHARLES HUTAGALUNG


 


Siapa sangka dengan masuknya CHARLES HUTAGALUNG menggantikan posisi Iskandar alias Bun yang melanjutkan studi kedokteran (kini menjadi seorang profesor ahli bedah syaraf), membawa kelompok musik ini masuk dalam deretan The BIG FIVE bersama dengan ‘ Koes Plus, Panbers, D’lloyds dan Favourite’s Group’ dan menghantarkan kelompok ini menjadi ‘Grup Band Legendaris dan dicintai masyarakat Musik Indonesia.

Charles Hutagalung sendiri lahir di Medan, 14 October 1948. Sudah mengenal musik Piano cukup baik saat usianya masih kecil, bahkan sudah bermain Band Bocah bersama teman-teman sepermainannya. Secara profesional bermusiknya, setelah menginjak Remaja sudah ikut bermain Band di kota Medan al: Victim’s dan Bayangkara Nada. Charles Hutagalung kemudian bergabung di kubu The Mercy’s baru pada tahun 1970, dimana grup ini masih dikenal berlatar belakang sebagai band yang hanya bermain di klub malam dan band pesta-pesta di kota Medan dan pernah show di negara tetangga Malaysia. Kemudian kelompok ini mendapat tawaran show di Vietnam dimana negara ini saat itu masih genting terjadi perang saudara dan nyawa adalah taruhannya, tapi tekad anak2 dikelompok ini tidak menyurutkan nyalinya sebagai seorang yang profesional dibidangnya untuk melebarkan sayap untuk diakui negara lain musiknya. Dengan kondisi itu, justru di negara perantauan naluri bakat menulis lagu dari salah satu personilnya sudah terlihat di dalam diri Charles saat dalam kesendiriannya mampu menorehkan bait demi bait menghasilkan lagu-lagu hebat, salah satunya berjudul ‘Tiada Lagi’ yang kelak hari melambungkan nama The Mercy’s ke puncak ketenaran.

Sekembali dari vietnam, kelompok ini masih bercokol ditanah kelahirannya kota Medan dan tetap masih berkiblat kepada grup band Bee Gees, The Hollies, Grank Funk, The Beatles dan hanya sesekali membawakan lagu Indonesia dan ciptaanya. Ajaibnya lagu ‘Tiada Lagi’ justru pertama kali diperdengarkan hanya kepada masyarakat daerah Sumatera Utara lewat gelombang Radio Republik Indonesia (RRI) secara On Air sebelum direkam dalam album PH atau pita kaset dan diperdengarkan secara Nasional. Lagu ‘Tiada lagi/cipt.Charles Hutagalung, mendapat sambutan luar biasa dari pendengar radio RRI yang mampu menjangkau frekwensi sampe kenegara semenanjung melayu negara tetangga, hal itu dibuktikan dengan banyaknya pesanan lagu ‘Tiada Lagi’ yang tidak pernah henti setiap hari mengudara.

Sejak itu rasa optimis para personilnya untuk mengembangkan karir bermusik ingin merambah kebebarapa Negara dan datanglah tawaran menggiurkan menyanyi di negara Jepang yang sudah dirindukan kelompok ini, sayang sang pentolan Rizal Arsjad tidak bisa melanjutkan lagi bergabung karena akan sekolah di Jerman dan dampuk pemimpin dilanjutkan oleh Erwin Harahap dan masuklah ‘Albert Sumlang/Saxophone’ kemudian hari banyak memberi warna di musik The Mercy’s dengan tiupan saxophone mautnya. Sayangnya grup ini tertipu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, pupuslah harapan go International dan memilih tetap di kota Medan. Suatu hari datanglah dewa penolong dari tulang ‘Herman Tobing (Paman/adik Ibu dari Rinto-Erwin Harahap)’ menyurati mereka dan mengajak pindah ke Jakarta, berjanji akan dicarikan tempat wadah bermusiknya. Singkat ceritera The Mercy’s sudah mengisi show dibeberapa tempat Panggung-panggung Taman Hiburan juga discotik, night club seperti Tropicana, LCC,Paprica dan Mini Discotique, kesempatan baik ini dimamfaatkan betul oleh The mercy’s dengan memperkenalkan lagu ciptaan mereka seperti ‘Untukmu, Hidupku sunyi, Love dll.

Pada tahun 1972, datanglah tawaran rekaman dari perusahaan PURNAMA mengusung sejumlah lagu-lagu ciptaan dari Charles Hutagalung seperti; Tiada lagi, Hidupku sunyi, Baju Baru, Untukmu,Bebaskanlah. Album perdana mereka diterima pasar yang dimasanya sudah dikuasai Koes Plus, Panbers, D’lloyd, Favourites Group dan The Mercy’s yang semula dari band Lokal menjadi band Nasional mampu mensejajarkan namanya dengan grup band yang lebih dahulu berjaya. Kelompok inipun menjadi grup band kesayangan priode 1972-1973 pilihan Puspen Hamkan dan meraih Golden Record atas penjualan diatas satu juta copy. Sejak itu The Mercy’s menjadi sebuah group yang menjadi idola baru bagi masyarakat indonesia dengan ciri khas rambut gondrong, bercelana cutbray yang biasa “menyapu” jalan dan baju berwarna ‘jreng’ berdasi ‘lebar’. Kembali kelompok ini berturut2 album demi albumnya digilai masyarakat pecintanya, kurang lebih dari 40 album rekaman dihasilkan dari mulai Pop, Melayu,Anak-anak, Kroncong, Mandarin & Natal, tercatat tiga kali menjadi grup band kesayangan dan beberapa kali meraih golden record atas albumnya yang rata2 terjual diatas satu juta copy dari perusahaan rekaman Remaco.

Sukses kelompok ini tak terlepas dari nama Charles Hutagalung walaupun ‘bukan’ seorang pendiri dari The Mercy’s, namun dengan masuknya bergabung dikelompok ini The Mercy’s menjadi band yang kemudian terkenal di masyarakat sehingga dalam perjalanannya Charles Hutagalung dan The Mercy’s seakan tidak dapat dipisahkan saling membutuhkan ibarat sisi mata uang logam. Keberadaan Charles Hutagalung di kelompok ini banyak memberi kontribusi baik sebagai vokalis maupun sebagai komposer yang hasilkan hit-hit, juga diakui Rinto Harahap banyak belajar dalam menciptakan lagu-lagu dan tidak dipungkirinya bahwa The Mercy’s menjadi terkenal karena Charles Hutagalung dan kami hanya sekedar pelengkap saja.

Setelah kesuksesan sudah dihantarkan pada kelompoknya, Charles Hutagalung menambatkan hatinya pada seorang gadis keturunan Padang-Medan bernama ‘ Delly Sriati Harahap’ dan mencatatkan pernikahannya di Jakarta, 16 mei 1975 dan dikaruniai ’empat’ orang anak berpasang2an yaitu ‘Iim Imanuel Hutagalung/Pria-1976, Ria Maria Hutagalung /Perempuan-1977, Chepy Chekospi Hutagalung /Laki-laki-1980 dan Dian Kristian Hutagalung /Perempuan-1987’.

Pasang surut yang melanda blantika musik Indonesia juga dirasakan oleh kelompok ini, sejak memasuki dunia rekaman. Adalah tahun 1978, lewat lagu Mimpi /cipt Rinto Harahap The Mercy’s melakukan rekaman yang terakhir. Sejak itu anggota The Mercy’s memulai kegiatannya masing-masing ‘Erwin Harahap memilih jalur Produser Rekaman dan memimpin perusahaan Lolypop, Rinto Harahap sebagai pencipta lagu dan mengorbitkan penyanyi baru seperti Iis Sugianto,Christine Panjaitan,Betharia Sonatha,Nia Daniaty,dll. Reynold Panggabean sendiri memutuskan mendirikan group dangdut OM Tarantula bersama Camelia Malik. Demikian pula dengan Charles Hutagalung, mendirikan group band Ge & Ge (Genial and Gentlemen) yang menghasilkan HIT-nya “Hanya Satu, Cukuplah Sudah” dan menghantarkan meraih golden record. Disamping itu Charles Hutagalung juga lebih dikenal sebagai penyanyi solo dan pencipta lagu sejumlah penyanyi dari perusahaan Flower Sound ‘Emillia Contessa,Vivi & Nita, Emma Ratna Fury,Liza Tanzil, dll.

Lagu Inang yang dipopulerkan penyanyi Emillia Contessa dan lagu-lagu Rohaninya seperti Si Penebus Dosa dan lagu Natal Kenangan Natal Di Dusun Kecil, sampai sekarang setiap tahun tetap dirilis ulang dan diminati para pencintanya... Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar