Senin, 02 Juni 2014

NIAGARA



 

NIAGARA
“Lagu-lagunya simbol dari AIR, mengalir lepas tanpa beban
& Membuat Bahagia Semua Orang yang Mendengarnya”

Dani Mamesah dan Ricky Basuki adalah NIAGARA, mereka memang seperti dua sisi mata uang yang saling mepengaruhi satu sama lain. “Kami seumpama Air dan Ikan, tidak hanya itu…kami ibarat memiliki satu nyawa”. Sebuah pengakuan jujur dari seorang ‘Dani Mamesah’, Peraih Out Standing Komposition Festival Lagu Popular Nasional X Tahun 1982 mengomentari sosok rekan Band-nya. Terlahir di Jakarta 3 Juni 1953, bernama lengkap ‘Hidup Dani Mamesah’ membuka perbincangan saat meliputnya di salah satu BUMM tempat Dani beraktifitas di daerah Kramat Raya. Demikian pula seorang ‘Erick Thomas Ricky Basuki Suryoadicokro lahir dan besar di Jakarta, 18 Januari 1957 atau lebih di kenal sebagai ‘Ricky Basuki’ sebagai vokalis tunggal dari Band tersebut meng Amini ungkapan Dani Mamesah sobat kentalnya. Persahabatan ini terjalin sejak bergabung di Grup Drakhma sampai dengan sekarang, demikian pengakuannya ketika saya meliputnya secara terpisah di keesokan hari ditempat yang sama.

@NIAGARA dengan kehadiran-nya,
Niagara, terbentuk pada akhir tahun 1983 saat mereka masih tergabung di Drakhma “ Kebetulan Dani punya materi lagu-lagu yang kelihatannya di Drakhma tidak cocok, lalu terpikirkan oleh kami membentuk Band di luar Drakhma” demikian Ricky Basuki membuka perbincangan. Nama “Niagara” sendiri mendapatkan inspirasi pada band luar yang personelnya Dua Orang saja, seumpama; ‘WHAM dan Air Supplay’. Band ini sendiri mengusung lagu-lagu bertema cool dan pop mellow yang tidak terlalu ringan, namun mempunyai warna dan visi tujuan yang cukup intelek. ‘Dari dasar itulah kita ambil “AIR” simbolnya dari kesejukan lagu-lagu kami dan berharap semuanya mengalir lepas tanpa beban dan terpenting membuat bahagia semua orang yang mendengarnya’. Kehadiran mereka ini ingin dikenal dunia, paling tidak di kenang dihati pencintanya seperti kesohoran nama air terjun “NIAGARA’ yang berdiri kokoh membelah perbatasan Negara Amerika dan Kanada ini. Wajarlah… kehadiran mereka tentunya tidak bisa disejajarkan dengan Boomingnya lagu-lagu pop melankolis milik para komposer ternama ‘Pance Pondaag, Rinto Harahap,Obbie Messakh, Wahyu OS dan bahkan Deddy Dores’ dengan para penyanyinya semisal; Dian Piesesha, Iis Sugianto, Christine Panjaitan, Nia Daniaty & Ratih Purwasih di masa itu.

@ NIAGARA dengan Album-nya,
Oleh tangan dingin ‘Lewi Yahya’ sebagai produser, turut andil membentuk grup duo ini dan mendapuknya di dunia recording membuat debut album pada tahun 1984 mengusung lagu andalan “Bumi Pertiwi”. Dani Mamesah menciptakan semua lagu pada album Niagara ini, antara lain : Tali Kasih, Nelayan, Janji, Bisikan Malam, Selamat Tinggal & Bumi Pertiwi. Dani adalah salah satu penulis lagu hebat, dia menulis lagu-lagunya dan berusaha bersikap jujur dengan pendengarnya. Bisa dinikmati pada lagu ‘Ratu Sejagad’ yang di populerkan Vonny Sumlang dan Ratu, pun dapat disimak Dani bersama Ithinx menciptakan sebuah lagu ‘Tragedi Buah Apel ‘ yang di suarakan penyanyi Malaysia ‘Anita Serawak’. Tak terbayangkan, ada lagu seperti itu?, keajaiban yang diciptakan seorang Dani Mamesah adalah sebuah Karunia. Keberhasilan debut album perdana Niagara, cukup mengejutkan dengan beberapa hitsnya antara lain; ‘Tali Kasih dan Janji’ . Lagu Janji dibawakan secara duet dengan Utje Anwar di perdengarkan hampir setiap hari di stasion Radio-radio Sawasta di Indonesia terkhusus sangat terkenal dikota Bandung dan sekitarnya. Mereka muncul dengan cirinya tersendiri dan hal yang terpenting Ricky basuki sebagai vokalis adalah penyanyi yang fantastis dan mampu menyihir para pendengarnya. Terlalu berlebihankah?, tidak juga…konon pada saat show ‘Suara Persaudaraan’ seorang Ricky Basuki tidak kalah dengan popularitas para artis penyanyi papan atas, sebut saja Harvey Malaiholo, Vina Panduwinata, Utha Likumahua, Nicky Astria, Ikang Fawzy & Emillia Contessa, ketika pemandu acara ‘Erwin Permadi dari Radio Ardan’ memanggil nama Ricky dengan embel-embel Niagara.. Reaksi penonton begitu antusias dengan segala kegaduhan di GOR Glora Saparua tersebut. Keberhasilan album debut Niagara ini tidak terlepas dengan andilnya beberapa musisi-musisi yang terlibat didalamnya, sebut saja ‘Harry Anggoman(keyboard), Dion(Guitar) dan Yanto(Drum)’. Sejak album perdana dilepas Bumi Pertiwi (1984), nama Niagara langsung melesat. Dilanjutkan kembali album-album berikutnya Tak Mungkin Berubah (1986), album ini berupa album Single dengan mengusung dua buah lagu baru ‘Tak Mungkin Berubah & Tingkahmu’, selebihnya rangkaian lagu-lagu festival dan album terdahulunya. Diakhir tahun 90-an Niagara kembali melempar album Api Asmara (1991) lumayan sukses, mereka menawarkan konsep musik Jazz khusus pada lagu “Rindu” yang dibawakan secara duet dengan Vonny Sumlang sebagai Guest Vocal selain Yopie Latul, selebihnya lagu-lagu ciri khas mereka. Keberhasilan kedua album terakhir yang mereka tentaskan ‘Tak Mungkin Berubah dan Api Asmara’ dikelilingi oleh orang-orang musik yang kaya ide dan berilian sebut saja Billy J Budiarjo(musik director), Dwiki Dharmawan(Keyboard) Ancha Haiz(Backing vocal), Narendra (Drum) dll.

NIAGARA dan Kegundahan-nya,
Nama Niagara sendiri sudah tak terdengar lagi, demikian pula personilnya kini menjadi Veteran namun semangat dan keteguhan mereka berkarya sebagai pilihan hidupnya yaitu; Musik Indonesia masih menggebu-gebu. “Sebenarnya kami sudah membicarakan keinginan kami untuk Come Back pada salah satu produser yang cukup produktif mengangkat harkat penyanyi-penyanyi lama dengan memberikan sampel Demo lagu-lagu Niagara, namun belum ada jalan keluarnya…karena menurutnya promosi sebuah kaset sangat mahal dan ditunjuk niagaralah sebagai penyandang dana-nya”, sungguh ironis memang!. Beginikah, wajah musisi indonesia?…tak ada lagi kilatan blitz, riuh tepuk tangan bahkan mediapun rasanya enggan memberitakan, padahal mereka para seniman dimasa kejayaannya memberikan sumbangsih aset pajak terbesar di Negeri ini, sepertinya terlupakan oleh produser bahkan pemerintahpun kurang serius memperhatikan mereka, semisal, “Seorang Lilis Suryani-pun semasa sakit justru dibantu biaya pengobatannya dari negara tetangga Malaysia, komponis lagu Borobudur ‘Chaken M’ tergolek sakit di kediamnnya tanpa penerang listirik karena menunggak pembayarannya selama 3 bulan dan diputus paksa oleh PLN”. Pemerintah hanya serius memberantas Narkoba, mengurus Politik & Penculikan Anak, sementara menghapus pembajakan Kaset, CD & VCD semakin merajalela yang jelas-jelas mematikan karakter para musisi untuk beraktifitas sepertinya kurang serius di tangani!. Apakah pribahasa “Habis Manis Sepah di Buang” berlaku kepada musisi veteran indonesia?…Berpulang dari penilaian kita masing-masing!!

4 komentar:

  1. mana lagu2 nya biar semua bisa dengerin..

    BalasHapus
  2. Artis adalah pencipta karya yang indah dan luhur karena proses penciptaannya dengan "hati". Kalau ada albumnya mohon diupload agar generasi sekarang dapat menikmati dan tahu sejarah karya cipta artis/pencipta lagu dan penyanyinya dimasa lalu.

    BalasHapus
  3. lagu niaga adalah lagu lagu yang tidak pernah bisa saya lupakannn .....semua lagunya (hampir ) bumi pertiwi hapal waktu kecil ...kenama personilnya ???? ini adalah band yang salah satu terbaik band indonesia yang ga semua tau ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sya slh satu yg tau meskipun bkn angkatan 80an, era 80an mmg era pop minimalis

      Hapus