Senin, 02 Juni 2014

NOOR BERSAUDARA



 

NOOR BERSAUDARA
“Album Baru… Semangat Baru”

“Langgengnya sebuah grup band keluarga, tidaklah cukup hanya bermodal kekompakan, pengertian dan kejujuran saja. Salah satu kunci suksesnya membina grup band keluarga, adalah menekan ego masing-masing dan saling menghargai satu sama lainnya. Noor Bersaudara, adalah contoh salah satunya yang masih eksis dalam Empat Dekade ini!”.

Awal 1962, ‘Adi Noor’ sang paman memprakarsai keberadaan Noor Bersaudara di Industri Musik Indonesia. Sebelum mentasbihkan menjadi Noor bersaudara, kelompok ini adalah sebuah ‘Band Bocah’ keluarga yang mempunyai ikatan saudara ber-anggotakan antara lain, Firzy (11 thn), Harry (9 thn), Iwan (10 thn), Nana(8 thn), Alm. Ida (9 thn), Yanti (8 thn) dan Dewi (6 thn). Suatu ketika, sang paman mengajak band bocah ini ikut festival band antar se Kebayoran. Dengan mendompleng nama Irama Remaja band milik sang paman yang salah satu personilnya Sophan Sophian untuk berlaga, band bocah ini berhasil keluar sebagai pemenang ke III dan mampu menyisihkan peserta band dewasa lainnya. Sejak saat itu, kakek ‘Pangeran Muhammad Noor’ merasa senang cucu-cucunya yang masih sangat belia memenangkan satu kejuaraan dalam ajang lomba tersebut, sehingga sang kakek tak segan-segan merogoh koceknya menambah peralatan musik band bocah ini. Seiring berjalannya waktu, band bocah ini sudah dikenal masyarakat lewat pemberitaan surat kabar dan majalah maupun seringnya mengisi secara reguler di Televisi. Sang kakek sering memboyong cucu-cucunya ketempat-tempat keramaian pusat Perbelanjaan ‘Pasar Baru’ dan Taman Rekreasi ‘cibulan-Cisarua dan Sampoer-Tanjung Priok’ hanya untuk mencari perhatian masyarakat “Kakek, baru puas dan senang apabila masyarakat menyambut dengan antusias keberadaan kami.. Apalagi anak-anak seumuran, sering mengikuti langkah kecil kami, mengekor kemanapun kami pergi…hahahaha” ujar Harry, mengenang almarhum sang kakek.

Pada tahun yang sama (1962). Bersamaan Indonesia menjadi Tuan Rumah Pesta Olah Raga Bangsa-bangsa se Asia yang Pertama (ASIAN GAMES) atau kala itu masih bernama GANEFO berlangsung di Jakarta, band bocah ini diminta mengisi acara workshop di TVRI secara live. Selain penyanyi Anna Mathovani dan Fenty Effendi, band bocah inipun rutin mengisi acara musik setiap satu bulan sekali memanjakan pemirsa yang kala itu hanya TVRI sebagai tontonan hiburan satu-satunya di rumah. Tidak hanya di Jakarta saja, band bocah inipun merambah pertunjukan di kota Bandung dan melibatkan penyanyi lokal setempat Fenty Effendi sebagai vokal tamu.

Memasuki 1975, dunia rekaman sudah terbuka lebar. Dengan formasi mengecil yang beranggotakan lima orang, terdiri dari Firzy (Gitar), Harry (Bass & Drum), Nana (Vokal), Yanti (Vokal) dan Alm. Ida (Vokal) mulai mengusung nama NOOR BERSAUDARA. Kelompok ini merekam album perdananya untuk label Pramaqua seperti Harapan nan Gersang, Cinta yang Hilang, Menanti Kasih, Love Is, Kuingat Selalu dll. Menariknya lagi, hampir semua lagu dan lirik berbahasa Indonesia maupun Inggeris di komposisi side A dikarang sendiri oleh mereka sehingga Noor Bersaudara memiliki orisinalitasme yang tidak dimiliki band lainnya. Selain lagu I’ve Gat The Feeling dari The Beatles, album ini juga di perkuat oleh sejumlah musisi Keenan Nasution pada Drum, Rully Djohan pada Keyboard Odink Nasution pada Gitar dan sebagai Sound Engineering Alex Kumara di bantu Bornok Hutauruk sebagai Backing Vokal serta melibatkan Vokal Group Universitas Indonesia, album ini cukup menyita perhatian penikmat musik di masa itu.

Menjelang 1977, Keluarga Noor sering kongkow di Gelanggang Remaja Bulungan tempat mangkalnya para musisi hebat negeri ini, salah satunya yang menarik perhatian keluarga Noor adalah musisi muda Hadiyanto. Merekapun langsung mengajaknya bergabung ke formasi Noor Bersaudara. Mereka membuat konsep grup vokal sehingga dipercaya kembali mengisi acara musik di TVRI. Sejak pemunculannya di Televisi, salah seorang musisi Jazz handal Alm. Jack Lesmana terpana menyaksikan kebolehan keluarga Noor bermain musik, lalu bersama sang isteri Nieng Lesmana dan Broery Pesolima datang ke kediaman keluarga Noor untuk meminangnya menjadi bagian dari acara “Nada & Improvisasi” yang digawanginya. “Sebenarnya sih…..sejak pemunculan kami di Televisi, kami sangat berharap di tonton sama om Jack (Jack Lesmana) dan mengajak bermain di acara musik Nada & Improvisasi….ternyata gayung bersambut! ” ungkap Firzy mengingat-ingat!. Sejak (!) merger (!) dengan Jack Lesmana, Noor Bersaudara secara reguler mengisi acara televisi dan beberapa konser diluar kota Jakarta seperti Bandung & Surabaya bersama penyanyi-penyanyi Jazz lainnya seperti Rien Djamain, Broery Pesolima, Margie Segers, Melky Goeslow dll. Sejak bergabung dengan Jack Lesmana, konsep bermusiknya di rubah menjadi kelaki-lakian dan secara otomatis vocal perempuan harus mengikuti, ada beat ‘Jazz, Clasic, Pop & Rock. Sangat berbeda dengan konsep bermusiknya di awal masih band bocah, yaitu memainkan lagu-lagu orang dan mengaransemen ulang sehingga masuk pada karekter Noor Bersaudara. “Kenapa?…karena pada saat itu, kami terbatas bawakan lagu anak-anak & Daerah, tapi kami mesti mainkan pake band… kami juga banyak dipengaruhi Koes Bersaudara, The Beatles dan band-band Instrumental seperti The Shadows, TheVentures & Eka Sapta atau Chicago & Pointer Sister bahkan Rolling Stone”. Pengakuan Firzy dan Harry !!

Di tahun yang sama (1977), Noor Bersaudara menyelesaikan album keduanya di label Hidayat Records yang sering merilis album Jazz semisal Bubi Chen, Ati Pramono, Rien Djamain, Margie Segers, Mona Sitompul, & Maryono. Dimana, album proyek ini adalah sebahagian rekaman lagu-lagu dari acara Nada & Improvisasi di TVRI yang saat itu sudah menggunakan sistim Taping. Lagu-lagu lawas seperti Sabda Alam dan sebuah lagu yang digubah Noor Bersaudara Harapan Nan Gersang dll. Hanya dua buah lagu yang benar-benar direkam di studio yaitu Surat Undangan & Kesepian, sehingga di kedua lagu tersebut Firzy & Harry sudah tidak terlibat karena sedang sekolah ke Belanda. Di album ini pula atas kesepakatan bersama Jack Lesmana ingin memperkenalkan putranya Indra Lesmana (10 thn) yang memang berbakat di musik, menyumbangkan karangannya berjudul Kabur. Daya tarik dari album ini adalah diperkuat para musisi Jazz seperti Karim Suweileh, Benny Likumahua & Perry Pattisellano, sehingga album ini adalah satu sisi menonjol dan mempesona bahkan dipuja penikmat musik Jazz. Terbukti, majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2007 memuat sebagai urutan ke 88 dari 150 Album Indonesia Terbaik.

Setelah 1977, sepeninggal Firzy & Harry menuju Belanda. Tidak menyurutkan langkah Noor Bersaudara tetap menancapkan kakinya di kancah musik indonesia Nana, Yanti & Ida tetap membawa energi baru melaju dengan satu tujuan menggunakan keseniannya membawa kenyamanan memanjakan penikmat musik indonesia dengan suaranya. Talenta Trio dari Keluarga Noor ini, mempunyai stile yang menjadi ciri khasnya dan sulit disamai dengan penyanyi trio yang kala itu sudah meramaikan peta musik indonesia Nidya Sister, Sitompul Sister, Hutauruk Sister, Nainggolan Sister maupun Lex Trio, sehingga oleh Yukawi Record dan Noor bersaudara berkolaborasi menghasilkan dua buah album, antara lain : ‘Menanti Kasih(Cipt,Noor Bersaudara) & Jantan(Clpt,Titiek Puspa)’. Album ini, memiliki daya tarik tetap mempesona dan masih enak didengar di masa kini dan mendatang. Cobaan baru datang lagi, masing-masing personil Noor Bersaudara satu persatu membina Rumah Tangga. Dimulai dari pernikahan Nana, disusul Ida dinikahi Firzy, kemudian Yanti di persunting sang pujaan hati alm.Christian Rahadi atau sekarang dikenal dengan nama Chrisye, sehingga untuk beberapa saat Noor Bersaudara vakum, lengkaplah sudah gaung Noor Bersaudara sudah tidak terdegar lagi. Namun hanya sesaat, karena gadis kelahiran Roma (Italia) Rani Trisutji isteri dari Raidy Noor yang juga seorang pianis & penyanyi solo bergabung dengan Noor Bersaudara. Dengan hanya personil dua orang Nana dan Rani, Noor Bersaudara kembali dapat ditemui hampir semua album solo penyanyi Indonesia dari mulai Vina Panduwinata, Chrisye, Armand Maulana’ PaquitaWijaya, Camelia Malik, Meggy Z, Sylvia Saartje, Nike Ardilla& teranyarAlbum Presiden RI - SBY sebagai backing vokal atau dapat juga dijumpai Noor Bersaudara berkolaborasi dengan Rita Effendy mengisi vokal pada Theme Sound Film‘ Catatan Si Emon’ pada tahun 1991.

Akhir 2007, “Di Usia Senja…Album Baru dan Semangat Baru”. Tepatnya, Noor Bersaudara “Come Back” lagi meramaikan musik Tanah Air ini dengan Formasi berubah seperti Firzy (56 thn), Harry (54 thn), Nana (53 thn) & Rani (47 thn). Bermula, sejak enam bulan yang lalu Ida, isteri dari Firzy yang juga masih sepupu dan salah satu mantan personel Noor Bersaudara menghadap sang khalik, Firzy banyak berdiam dan mengurung diri di rumah. Oleh teman-teman terutama keluarga dan kerabat berempati mengajak untuk melupakan kenangan indah saat bersama Ida untuk bangkit dari keterpurukan kembali bermusik. Dari mulai acara Keluarga, Kawinan teman & acara kumpul-kumpul di Café “Masih.. bisa neh!!” akunya Firzy, saat saya sambangi proses mixing album Noor Bersaudara yang akan launching awal thn 2008 di studio Living Room di ITC Permata Hijau.

Kebenarannya lagi, Aida Mustafa, Moteh Mokogintah dan Eddy Susilo penggagas dari Event Musik Tahun 70-an, dimana semua band-band jaman pesta masih muda dulu diminta aktif lagi. Ternyata konser yang berlangsung di Bugs Cafe ini membawa dampak positif dari para musisi veteran, Event pertama, Marini & The Steps di lanjutkan Event kedua, Noor Bersaudara berdampingan Gipsy berhasil gemilang mendapat aplaus penonton dan memperoleh respon di dunia maya. Inilah yang menjadi starting point kembalinya Noor Bersaudara untuk merekam kembali suaranya dan merekomendasikan lagu-lagunya di Album-album terdahulu. Salah satu keunggulan dari album ini melibatkan sang adik, Raidy Noor(47 thn) & friends ‘Addie MS, Doddy Soekasah, Edi Hudioro (Chaseiro), Iwang Noersaid& Uce Haryono’ mengusung lagu Sapa Semesta, Alam dan Pujangga, Kiasan Kata& Cinta yang hilang yang pernah dibawakan oleh The Rollies. Bahkan di album ini terdapat satu lagu baru khusus di ciptakan Firzy berjudul By-By bernuansa The Beatles, menjadi ciri khas Noor Bersaudara yang dikenal suka mengobrak-abrik dari ‘lagu biasa’ menjadi ‘sangat luar biasa’ dapat dijumpai di album ini sebagai lagu ‘pamungkasnya’. Kehadiran, Iwan (55 thn) sbg Executive Produser maupun Yanti (53 thn) yang sudah lama vakum atau kemunculan suara empuk Alm. Ida pada lagu Bis Sekolah ciptaan Tonny Koeswoyo dapat didengar kembali. Boleh dibilang, menurut Raidy Noor sbg Penata musiknya ‘Album ini dapat dikategorikan sebagai album Progresif, seperti album alternatiflah!... karena, selama ini kita sudah tidak pernah mendengarnya lagi?’ .

Pemunculan Noor Bersaudara menyemarakkan katalog musik Indonesia kali ini, bagaikan chemistry sebuah Reuni, Noor Bersaudara atau paling tepat sebagai Reuni, Keluarga Besar Noor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar